SINGARAJA, OborDewata.com – Arsip kalender Bali yang tersimpan di Gedong Kertya, Singaraja, mengungkap fakta historis terkait pelaksanaan Tawur Kesanga dan Hari Raya Nyepi sejak puluhan tahun silam. Data arsip tersebut sekaligus meluruskan perdebatan mengenai perubahan waktu pelaksanaan Nyepi yang belakangan kembali mencuat di tengah masyarakat.
Berdasarkan penelusuran arsip kalender tertua yang masih dapat ditemukan, tercatat bahwa pada tahun 1935–1936 pelaksanaan Tawur dilakukan bertepatan dengan Tilem, sementara Hari Raya Nyepi dilaksanakan sehari setelahnya. Pola yang sama juga tercatat pada tahun 1945, 1947, dan 1948.
Untuk periode 1937 hingga 1945, arsip kalender tidak ditemukan. Sementara kalender tahun 1949 dan 1950 berhasil didokumentasikan, namun keterangan mengenai Nyepi tidak tercantum atau tidak terbaca secara jelas. Pada tahun 1951 dan 1955, meski kalender tahun di antaranya tidak ditemukan, pola pelaksanaan tetap menunjukkan Tawur saat Tilem dan Nyepi sehari setelahnya.
Perubahan tercatat terjadi pada periode 1960 hingga 1966. Dalam rentang tujuh tahun tersebut, Tawur Kesanga dilaksanakan sebelum Tilem, sedangkan Nyepi jatuh bersamaan dengan Tilem. Namun, setelah periode tersebut, pola kembali berubah.
Mulai tahun 1967 hingga sekarang—dengan catatan kalender tahun 1969, 1970, dan 1974 tidak ditemukan—arsip menunjukkan pelaksanaan Tawur kembali dilakukan saat Tilem, sementara Hari Raya Nyepi dilaksanakan keesokan harinya. Pola ini dinilai konsisten hingga diwarisi oleh umat Hindu Bali saat ini.
Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), I Ketut Budiasa, menyampaikan bahwa temuan arsip Gedong Kertya tersebut merupakan rujukan sejarah yang sahih dan dapat dijadikan dasar pemahaman bersama.
“Berdasarkan dokumen yang dapat ditelusuri sejak 1935, pelaksanaan Nyepi sebagaimana dijalankan saat ini telah sesuai dengan tradisi yang diwariskan sejak puluhan tahun lalu,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (2/1/2026).
Ia berharap data historis tersebut dapat menjadi rujukan objektif dalam menyikapi perbedaan pandangan yang muncul di masyarakat. Dengan demikian, umat Hindu di Bali diharapkan dapat lebih fokus pada upaya menjaga keharmonisan dan menyelesaikan berbagai persoalan nyata yang dihadapi daerah.
Gedong Kertya Singaraja sendiri dikenal sebagai pusat dokumentasi lontar dan arsip Bali yang menyimpan ribuan naskah kuno dan kalender tradisional, yang menjadi rujukan penting dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan Bali. tim/dx



