DENPASAR, OborDewata.com – Lobi Living World Denpasar tidak hanya riuh oleh langkah kaki pengunjung atau denting sendok dari area kuliner. Di salah satu sudutnya, suara jernih anak-anak dari SD Cipta Darma Denpasar melantunkan nada-nada perjuangan, membawa ingatan kita terbang jauh ke masa Raden Ajeng Kartini.
Di sanalah, di tengah atmosfer modernitas pusat perbelanjaan, dr. Bagus Darmayasa memilih untuk “menitipkan” jiwanya lewat sebuah pameran tunggal bertajuk “Goresan Emansipasi Spirit Kartini”.
Melangkah menyusuri koridor pameran, pengunjung seolah diajak melintasi lorong waktu. Sebanyak 52 lukisan berjejer rapi, menjadi saksi bisu bagaimana dr. Bagus memandang sosok perempuan. Ada gurat kelembutan wanita tempo dulu yang sarat tradisi, namun di bingkai lain, muncul potret ketangguhan perempuan modern yang berdiri tegak menghadapi tantangan zaman.
dr. Bagus tidak membatasi dirinya pada satu cara bercerita. Ia bermain dengan cat akrilik yang berani untuk menggambarkan semangat yang membara, namun beralih ke sketsa pensil yang halus dan intim saat ingin bicara tentang kerentanan dan kasih sayang. Tak jarang, ia menyisipkan elemen fauna dan alam—sebuah pengingat bahwa perempuan adalah simbol harmoni dan sumber kehidupan itu sendiri.

Mendobrak Dinding Galeri
Mengapa memilih mall? Pertanyaan ini mungkin terlintas di benak banyak orang. Bagi dr. Bagus, seni tidak boleh eksklusif hanya untuk mereka yang mengerti teori warna atau kolektor yang terbiasa keluar-masuk galeri mewah.
”Pameran ini adalah upaya kami mendekatkan apresiasi seni ke jantung aktivitas masyarakat,” ungkap dr. Bagus dengan nada tenang. “Kami ingin semangat Kartini tidak hanya diingat sebagai teks sejarah, tapi dirasakan getarannya melalui warna di ruang public,” ujar dr Bagus pada Rabu (22/4/2026).
Di sini, seni menjadi “membumi”. Seorang ibu yang sedang mengantar anaknya bermain, atau seorang bapak yang tengah menunggu istrinya berbelanja, tiba-tiba terhenti langkahnya. Mereka menatap sebuah lukisan, merenung sejenak, dan mungkin tanpa sadar sedang melakukan refleksi batin tentang sosok perempuan dalam hidup mereka. Inilah emansipasi yang nyata: akses yang setara bagi siapa saja untuk menikmati keindahan dan inspirasi.
Bagi Living World Denpasar, kehadiran pameran ini mengubah wajah mall menjadi ruang publik yang bernyawa. Mall bukan lagi sekadar tempat konsumsi barang, melainkan tempat pertukaran energi kreatif. Kehadiran lukisan-lukisan ini memberikan warna baru, sebuah “oasis” budaya di tengah hiruk-pikuk aktivitas urban.
Pameran “Goresan Emansipasi Spirit Kartini” akan terus menyapa pengunjung hingga 30 April mendatang. Ia seolah berbisik kepada setiap pelancong dan warga Bali yang melintas: bahwa perjuangan perempuan belum usai, dan setiap goresan warna di kanvas itu adalah pengingat bahwa ketangguhan bisa lahir dari kelembutan yang paling dalam.
Jika Anda kebetulan berada di Denpasar pekan ini, sempatkanlah menepi sejenak di Living World. Temukan bagaimana jemari seorang dokter mampu merajut spirit Kartini menjadi visual yang menggetarkan hati. Tra/dx


