DENPASAR, OborDewata.com – Sabtu malam di Bali Beach Convention Sanur bukan sekadar peragaan busana biasa. Di bawah pendar lampu panggung, sejarah dan filosofi luhur seolah hidup kembali. Acara bertajuk Singgasana Seni Bung Karno sukses menyulap kerinduan akan sosok Sang Proklamator menjadi sebuah mahakarya kolaborasi yang memukau ribuan pasang mata.
Diselenggarakan oleh Mahagaya Pagelaran Persona (MPP), acara ini tidak hanya memamerkan estetika, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang kemanusiaan dan kebangsaan melalui tema Tat Twam Asi.
Diah Safira Prananda, sang nakhoda di balik layar sebagai Ketua Panitia, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini bukanlah tanpa alasan. Tat Twam Asi, sebuah filosofi Hindu yang berarti “Aku adalah kamu,” diterjemahkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada seluruh makhluk hidup.
“Singgasana Seni Bung Karno hari ini temanya kita ambil dari perkataan Tat Twam Asi. Makanya koleksi-koleksi yang kita tampilkan hari ini banyak mengambil napas flora dan fauna,” ujar Safira dengan penuh semangat.
Pesan tersebut tertuang nyata dalam helai demi helai kain yang melenggang di atas catwalk. Motif kupu-kupu yang anggun, siluet burung yang gagah, hingga rincian bunga-bunga tropis menjadi primadona. Kesan Bali semakin kental dengan tatanan rambut model yang mengadopsi gaya perempuan Bali modern—rambut panjang berkepang yang tetap terlihat chic dan relevan dengan zaman.
Tak sekadar berjalan tegak, para model juga menyisipkan gerakan tarian Bali yang dinamis dalam setiap langkahnya. “Karena diadakan di Bali, kami ingin unsur lokalnya benar-benar terasa, mulai dari desain baju hingga koreografinya,” tambah putri dari pasangan Muhammad Prananda dan Nancy Prananda ini.
Kehadiran Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, yang didampingi oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur I Nyoman Giri Prasta, menambah kekhidmatan acara. Mereka menyaksikan bagaimana warisan artistik Bung Karno diinterpretasikan ulang oleh generasi muda secara kreatif.
Di balik gemerlap lampu panggung, ada denyut ekonomi yang berdetak kencang. Acara yang digagas atas arahan Mas Prananda Prabowo, Dana, dan Henky ini menjadi panggung besar bagi 72 UMKM perajin di bawah binaan Ibu Putri Suastini Koster. 22 IKM kuliner, termasuk melibatkan saudara-saudara kita dari komunitas disabilitas.
Panitia menargetkan perputaran ekonomi mencapai Rp 2,5 miliar, sebuah angka yang membuktikan bahwa seni dan budaya bisa menjadi mesin penggerak kesejahteraan rakyat yang nyata.
isu pembukaan perdana dari rangkaian Singgasana Seni Bung Karno. Ke depan, spirit “Tat Twam Asi” ini akan dibawa berkeliling ke berbagai kota besar di tanah air untuk terus menginspirasi generasi muda agar tidak lupa pada akar budayanya sendiri.
Singgasana Seni Bung Karno bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan upaya untuk memastikan bahwa jiwa seni dan keberpihakan pada rakyat kecil yang diajarkan Bung Karno tetap abadi di hati anak muda Indonesia. mas/tra



