DENPASAR, OborDewata.com – Lebih kurang 2 juta masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri tiap tahun. Angka tersebut dilontarkan Presiden RI, Joko Widodo saat peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Bali International Hospital di Sanur, Bali, beberapa waktu lalu. Jika dikalkulasikan, Indonesia kehilangan hampir Rp100 triliun karena hal tersebut.
“Setiap tahun ada kurang lebih 2 juta masyarakat kita yang pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan, baik itu ke Singapura, baik itu ke Malaysia, baik itu ke Jepang, baik itu ke Amerika dan tempat-tempat lainnya. Kita kehilangan Rp97 triliun rupiah karena itu,” ungkap Presiden Jokowi.
Fakta tersebut dinilai sebagai sesuatu yang patut disayangkan oleh CEO RS Premier Bintaro, dr. Martha M.L Siahaan, M.HKes., MARS. ketika ditemui dalam acara Disphoria: Diskusi Seni dan Olahraga yang digelar RS Premier Bintaro bekerja sama dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali dan Universitas Bali Internasional (UNBI) di Denpasar, Rabu (5/10). dr. Martha mengatakan para dokter dan rumah sakit di dalam negeri sejatinya tidak kalah berkualitas dari layanan kesehatan di luar negeri.
“Rp97 triliun rupiah lari ke luar negeri, sakitnya tuh di sini. Faktanya masyarakat kita di Indonesia lebih percaya layanan kesehatan di luar negeri dibandingkan di dalam negeri sendiri. Padahal sejatinya kita sama sekali tidak kalah dari segi kualitas pelayanan, baik dokter maupun peralatan medis penunjang lainnya. Rp97 triliun rupiah lari ke luar negeri ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama, bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan rumah sakit di dalam negeri,” ungkap dr. Martha.

Salah satu di antaranya adalah 7 rumah sakit swasta jejaring Ramsay Sime Darby Health Care yang tersebar di 3 negara Asia, yakni 3 di Indonesia, 3 di Malaysia, dan 1 di Hongkong. Khusus di Indonesia, rs dimaksud terdiri atas RS Premier Bintaro, RS Premier Jatinegara, dan RS Premier Surabaya. RS Premier Bintaro, RS Premier Jatinegara, dan RS Premier Surabaya memiliki layanan super berkualitas ditopang oleh tenaga medis dan teknologi pengobatan bersertifikasi internasional.
“Mother board kami ada di Australia. Pertama kali mereka akuisisi rumah sakit lama di Jakarta dan sekarang menjadi RS Premier Jatinegara. Setelah itu, founder hospital group kami membangun rumah sakit secara bersamaan di Surabaya dan Bintaro. Jika pertanyaannya apakah akan memperluas di Indonesia sehingga tak hanya 3 rumah sakit, memang sekarang sedang diagendakan dan ingin sekali punya sister company di Bali. Seperti kita tahu Bali adalah pintu masuk orang-orang asing ke Indonesia. Kita sedang berpikir bahwa one day kita akan punya adik dari 3 rumah sakit sebelumnya di Bali. Dengan kehadiran kami yang bersertifikasi internasional di Indonesia, tidak ada alasan untuk berobat ke luar negeri,” ucap dr. Martha.
dr. Martha dan RS Premier Bintaro hadir di Bali serangkaian Disphoria alias Diskusi Seni dan Olahraga yang didedikasikan untuk atlet, pelatih, dan tim kesehatan olahraga. Disphoria yang diselenggarakan di Dharma Negara Alaya (DNA Art and Creative Hub Denpasar) menampilkan talkshow kesehatan, pertunjukkan seni bela diri, pantomime, workshop, dan band akustik. Talkshow dengan topik “Sport Injury Management Update” oleh dr. Septo Adji H., Sp.OT dan dr. Taufan Favian Reyhan, Sp.KO. Sementara sport workshop “Penanganan Cedera pada Atlet” disajikan oleh dr. Taufan Favian Reyhan, Sp.KO. dan dr. Chikih, MKK. DMA. Terakhir, “Penanganan Tapping untuk Cedera Olahraga” dipaparkan oleh I Made Dhita Prianthara, S.Ft., M.Fis., Ftr.
Pada kesempatan itu, pihaknya juga mengungkapkan, seluruh kegiatan olahraga memiliki risiko termasuk catur, e-sport (games) karena olahraga tersebut bisa memberikan efek tegang sehingga jari tangan bisa cedera, mata juga bisa cedera karena pantulan layar handphone saat bermain games.
Begitu juga telinga saat bermain games karena volume suara games kerap ditinggikan. Bahkan cedera psikis karena games memberi dampak terhadap emosi dan perasaan sehingga tumbuh kembang anak bisa terganggu. Anak menjadi lupa makan, mandi, tidak hanya lupa belajar.
Menurutnya, Indonesia perlu adanya sport clinic center untuk memitigasi risiko – risiko cedera saat berolahraga. Apalagi Bali yang merupakan tempat bermukimnya banyak turis asing, gaya hidup sehat seperti olahraga telah menjadi kebutuhan.
Mengingat risiko – risiko cedera olaharga tak dapat dihindari tersebut sehingga perlu layanan cepat dalam penanganannya. Sementara pusat layanan cedera saat berolahraga tak banyak di Indonesia.
“Mungkin ada tapi belum dikemas center of excellent, brandingnya belum agresif Bali harus berpikir membuat sport clinic center karena banyak kegiatab olahraga baik di dalam negeri maupun luar negeri ada di Bali dan sekitarnya, seperti Mandalika dan Bali harus mengemas dengan layanan yang keren,” ujarnya.
Sedangkan cedera olahraga yang kerap terjadi adalah cedera tulang belakang. “Banyak kasus cedera tulang belakang bukan hanya karena olahrga tapi juga kebiasaan berjalan, duduk yang tidak bagus membuat tulang belakang cedera,” ujarnya.
Cedera ini berkaitan dengan saraf sehingga dalam penanganannya perlu kehati – hatian dan kecermatan. Sumber Daya Manusia yaitu dokter bedah tulang belakang harus menghitung secara manual berapa mur yang mesti ditanam dalam tulang belakang dan posisi peletakannya juga harus dicermati.
Operasi tersebut membutuhkan 8 jam. Namun kini telah berkembang teknologi robot yang menggunakan Artificial Intelegence (AI) untuk melakukan operasi bedah tulang belakang sehingga waktu yang diperlukan lebih efisien yaitu 2 jam. “Dokter tinggal menginput data ke robot dan robot dapat mulai melakukan bedah dengan tingkat akurasi di atas 90%,” ungkapnya. uya/sathya



