DENPASAR, OborDewata.com – Sebuah gerakan besar sedang tumbuh dari akar rumput Pulau Dewata. Di tengah kepungan raksasa platform transportasi digital nasional dan global, muncul sebuah inisiatif lokal bernama Trihita Trans. Bukan sekadar aplikasi baru, Trihita Trans hadir dengan visi ideologis: mengembalikan kedaulatan ekonomi digital ke tangan masyarakat Bali.
Ketua Umum Yayasan Trihita Bali Dwipa, I Ketut Widiana Karya, SE., MBA., menegaskan bahwa Trihita Trans lahir dari refleksi mendalam atas kondisi Bali yang selama ini hanya menjadi pasar bagi sistem ekonomi luar.
”Trihita bukan sekadar aplikasi transportasi. Ini adalah gerakan kebangkitan ekonomi krama Bali. Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi pekerja dalam sistem milik orang lain, tetapi menjadi pemilik ekosistem digitalnya sendiri,” ujar Widiana Karya dengan tegas pada Sabtu (7/3/2026).
Konsep ini berakar pada filosofi Tri Hita Karana, yang menyelaraskan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam. Trihita Trans berupaya mengawinkan kecanggihan teknologi modern dengan nilai-nilai tradisional agar modernisasi tidak justru mengikis identitas budaya Bali.
Strategi yang diusung Trihita Trans terbilang unik dan strategis, yakni menjadikan Desa Adat sebagai fondasi utama. Saat ini, Trihita Trans tengah menjajaki kerja sama dengan 29 desa adat di seluruh Bali melalui dialog intensif dengan para pemimpin setempat.
Beberapa desa adat yang telah melakukan audiensi langsung meliputi:
Desa Adat Beraban
Desa Adat Canggu
Desa Adat Tanjung Benoa
Desa Adat Serangan
Selain itu, komunikasi resmi telah dijalin dengan wilayah strategis lainnya seperti Jimbaran dan Pecatu. Dalam model bisnis ini, desa adat tidak hanya menjadi penonton, melainkan mitra strategis melalui Badan Usaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) atau koperasi desa. Dengan demikian, keuntungan ekonomi digital dapat mengalir kembali untuk pembangunan desa.
Trihita Trans juga membawa misi reposisi bagi para pengemudi. Dalam ekosistem ini, pengemudi tidak lagi dianggap sekadar penyedia jasa transportasi, melainkan diposisikan sebagai Duta Budaya Bali.
”Driver adalah wajah pertama Bali bagi wisatawan. Kita ingin mereka tidak hanya profesional dalam pelayanan, tetapi juga memahami dan membawa nilai budaya kita,” tambah Widiana Karya.
Melalui perpaduan struktur sosial desa adat yang kuat dan teknologi digital yang mumpuni, Trihita Trans optimis mampu menciptakan sistem ekonomi berbasis komunitas yang berkelanjutan dan tangguh menghadapi tantangan global. tra/ama



