Daerah

Putri Koster Saksikan Pentas “Prasasti”, Teater Agustus Angkat Sejarah dan Identitas Bali di FSBJ VIII

924 Views

DENPASAR, OborDewata.com – Pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus menjadi salah satu suguhan yang menyedot perhatian dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Pertunjukan yang digelar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam itu turut disaksikan Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ni Putu Putri Suastini Koster.

Drama garapan tim penyutradaraan Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan tersebut menghadirkan perpaduan sejarah, mitologi, dan kritik sosial yang mengajak penonton merefleksikan kembali identitas Bali di tengah dinamika kehidupan modern.

Iklan

Naskah karya I.B. Martinaya atau Gus Martin, yang sekaligus bertindak sebagai penata musik, mengambil inspirasi dari Prasasti Blanjong di Sanur, salah satu peninggalan sejarah penting di Bali. Namun, kisah itu dikemas menjadi sebuah pertunjukan teater yang tidak hanya mengangkat sejarah, melainkan juga menghubungkannya dengan berbagai persoalan sosial masa kini.

Cerita diawali dengan sekelompok anak yang melakukan kunjungan ke situs Prasasti Blanjong. Dalam alur yang dibalut nuansa fantasi, mereka terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa dan menyaksikan langsung proses pendirian Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong.

Iklan

Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah ditampilkan lebih hidup dan dekat dengan penonton. Perjalanan tersebut kemudian berkembang dengan menghadirkan kisah cinta antara pemahat prasasti bernama I Tekek dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah itu menggambarkan Bali sebagai wilayah yang sejak masa lampau telah menjadi ruang pertemuan berbagai budaya. Keberadaan tokoh Ni Sing Lian juga merefleksikan hubungan masyarakat Bali dengan komunitas pedagang Tionghoa yang telah tercatat dalam sejarah.

Alur cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui kisah sekelompok ibu yang berupaya mencari “Prasasti Nusantara”, sebuah simbol yang diyakini menyimpan jawaban mengenai jati diri bangsa. Dalam pencarian tersebut, mereka bertemu kelompok mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi sehingga menghadirkan berbagai simbol dan tafsir mengenai sejarah, identitas, hingga realitas sosial masyarakat saat ini.

Melalui pendekatan dramaturgi tersebut, “Prasasti” tidak sekadar menyajikan kisah sejarah, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan hubungan manusia modern dengan akar budayanya. Prasasti dimaknai bukan hanya sebagai peninggalan masa lampau, melainkan simbol ingatan kolektif yang terus relevan untuk dibaca ulang.

Usai pementasan, penulis naskah sekaligus penata musik, Gus Martin, menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam Festival Seni Bali Jani VIII.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Ni Putu Putri Suastini Koster sebagai penggagas Festival Seni Bali Jani yang dinilai telah menyediakan ruang bagi perkembangan seni modern dan kontemporer di Bali.

Pementasan “Prasasti” menjadi salah satu bukti bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya seni pertunjukan yang relevan dengan isu-isu kekinian. Melalui perpaduan sejarah, perjalanan lintas waktu, kritik sosial, dan refleksi kebangsaan, Teater Agustus mengajak masyarakat memaknai kembali perjalanan peradaban sebagai pijakan menghadapi tantangan masa depan. (rls/Tim)