TABANAN, OborDewata.com– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan menunjukkan keseriusannya dalam menjaga kesehatan warga binaan. Mereka menggelar program skrining Tuberkulosis (TBC) besar-besaran, melibatkan sinergi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) serta Puskesmas Tabanan I, II, dan III. Langkah proaktif ini diambil guna membendung potensi penyebaran TBC di lingkungan padat penghuni penjara.
“Kami anggap pelayanan kesehatan sebagai hak dasar yang tidak bisa ditawar bagi setiap warga binaan,” tegas Prawira Hadiwidjojo, Kepala Lapas Tabanan, menggarisbawahi urgensi program ini.
Program skrining, yang mencakup metode pemeriksaan gejala dan Tuberculin Skin Test (TST), berlangsung pada Senin, 16 Juni 2025. Pihak Lapas menyadari betul, tempat pembinaan dengan jumlah penghuni yang banyak memiliki risiko tinggi penularan penyakit. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama.
“Jika satu saja warga binaan terjangkit penyakit menular, risikonya bisa berdampak luas pada seluruh aktivitas di Lapas,” papar Prawira, mewaspadai potensi penyebaran infeksi.
I Gede Komang Werdi, Kepala Sub Seksi Perawatan Lapas Tabanan, menjelaskan bahwa kolaborasi ini melibatkan tim medis dari Dinkes dan Puskesmas. Sebanyak 210 warga binaan menjalani tes TST. Tak ketinggalan, enam petugas Lapas juga ikut diperiksa demi memastikan lingkungan kerja yang aman.
“Skrining kali ini terlaksana berkat kerja sama erat dengan rekan-rekan dari Dinkes dan Puskesmas,” ujar Gede Komang Werdi, mengapresiasi dukungan dari pihak eksternal.
Gede Ngurah Upadana, Ketua Tim Kerja Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tabanan, menyambut positif inisiatif ini. Ia berharap skrining masif ini mampu menekan angka penularan penyakit, khususnya TBC. Menurutnya, pencegahan TBC bukan hanya program lokal, melainkan agenda nasional yang patut diimplementasikan di setiap fasilitas umum.
“Lapas, sebagai tempat dengan kepadatan tinggi, memang sangat rentan penyakit menular. Program pencegahan TB ini adalah prioritas nasional,” jelas Gede Ngurah Upadana, menekankan pentingnya intervensi ini.
Inisiatif skrining TBC ini tidak hanya sekadar memenuhi hak dasar warga binaan. Program ini juga merupakan bagian integral dari upaya mewujudkan lingkungan lapas yang sehat dan kondusif. Deteksi dini memungkinkan penanganan yang cepat dan tepat, memutus mata rantai penularan di kalangan penghuni.
“Kami fokus pada pencegahan lewat pelaksanaan skrining TBC ini,” Prawira Hadiwidjojo kembali menegaskan arah strategis program.
Lapas Tabanan secara berkelanjutan menjalin komunikasi dengan instansi kesehatan setempat. Tujuannya memastikan seluruh warga binaan memperoleh akses layanan medis memadai. Pihak Lapas memahami bahwa kesehatan penghuni memiliki korelasi langsung dengan keberhasilan program pembinaan serta rehabilitasi.
“Setiap langkah kami bertujuan memberikan pelayanan terbaik bagi warga binaan,” tutur Gede Komang Werdi, menggarisbawahi misi Lapas.
Sinergi antara Lapas, Dinkes, dan Puskesmas diharapkan terus berlanjut di masa mendatang. Kolaborasi lintas sektor semacam ini menjadi krusial dalam mengatasi berbagai tantangan kesehatan di fasilitas pemasyarakatan. Pencegahan penyakit menular di lingkungan tertutup memerlukan pendekatan yang holistik dan konsisten.
“Harapan besar kami, skrining ini benar-benar efektif menekan penularan penyakit menular,” pungkas Gede Ngurah Upadana.
Praktik pencegahan TBC di Lapas Tabanan ini layak menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lain di Indonesia. Dengan demikian, kesehatan warga binaan dan petugas dapat terjaga, mendukung terciptanya lingkungan yang lebih baik. ga



