DENPASAR, OborDewata.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menghadiri rangkaian upacara pemelaspasan, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026). Momentum suci yang bertepatan dengan rahina Purnama Sasih Kapat tersebut dimanfaatkan Wagub untuk mengajak seluruh umat Hindu di Bali memperkuat persatuan, merawat semangat menyama braya, serta melestarikan kearifan lokal daerah.
Setibanya di lokasi, Wagub Giri Prasta yang didampingi sang istri, Ny. Seniasih Giri Prasta, tampak melebur bersama para pemedek (umat) untuk mengikuti prosesi mendem pedagingan. Ritual penyucian bangunan suci ini merupakan bagian mendasar dari implementasi ajaran Tri Hita Karana, yakni mewujudkan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Sang Creator (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam sekitar (Palemahan). Rangkaian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang berlangsung khusyuk.
Dalam sambrama wacana (sambutan), Giri Prasta mengulas kedalaman sejarah dan spiritualitas Pura Lempuyang berdasarkan Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul. Ia menceritakan legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa, di mana pecahan gunung tersebut membentuk barisan pegunungan di Jawa dan Bali, salah satunya Gunung Lempuyang.
Giri Prasta memaparkan bahwa Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di gunung-gunung utama Bali demi menjaga keseimbangan spiritual pulau ini, Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung/Pura Besakih). Batari Dewi Danuh berstana di Gunung Batur (Pura Ulun Danu Batur). Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.
Atas dasar sejarah suci tersebut, Wagub menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur yang telah diturunkan lintas generasi. Menurutnya, pelestarian adat, tradisi, seni, dan budaya Bali tidak boleh berhenti pada ritual keagamaan semata, melainkan harus diwujudkan dalam nilai-nilai gotong royong dan kehidupan sosial sehari-hari.
”Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” ujar Giri Prasta mendoakan agar seluruh rangkaian upacara berjalan lancar dan membawa kedamaian serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Bali.
Ia memungkas sambutannya dengan memotivasi umat untuk menjadikan upacara keagamaan sebagai momentum mempererat tali persaudaraan dan menyatukan langkah dalam menjalankan swadarma (kewajiban diri) demi keberlangsungan Bali di masa depan. mas/sathya





















