BADUNG, OborDewata.com – Ribuan Krama Banjar Desa Adat Unggasan dengan menggunakan pakian adat berbaju putih bertuliskan “Rest In Peace JM Gede I Wayan Tang” berbondong-bondong mengantar Layon JM Gede I Wayan Tang menuju Setra Desa Adat Unggasan pada Minggu (8/8/2026).
Dalam mengiringi Layon JM Gede I Wayan Tang menggunakan Bade setinggi 11 meter, di iringi beleganjur sesampainya Bade di setra tepat pada Pukul 13.00 Wita, langsung menggelar upacara untuk melakukan Pengabenan Layon JM Gede I Wayan Tang. Dalam pelaksanaan yang penuh khidmat rangkaian prosesi adat dan keagamaan tersebut dihadiri oleh keluarga, kerabat, hingga sejumlah tokoh penting di Bali.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, I Wayan Disel Astawa, yang juga putra almarhum, menyampaikan bahwa rangkaian puncak acara telah dimulai sejak Sabtu pagi dengan pemelaspasan wadah (bade) serta sarana lelembu (singa) secara lengkap.
”Hari ini dari pagi dilaksanakan pemelaspasan bade sama singa dan selengkapnya. Kemudian dilanjutkan prosesi nedunang layon (menurunkan jenazah) yang dipuput oleh Ida Rsi Agung Wayahan Suryadarmo,” ujarnya.
Sekitar pukul 11.30 WITA, jenazah diturunkan dan disambut dengan Tarian Ketekok Jago sebelum dinaikkan ke atas bade. Dalam prosesi menuju bade tersebut, terdapat atraksi simbolis (adegan) yang dibawakan oleh para cucu almarhum sebagai wujud penghormatan. Sekitar pukul 13.00 WITA, iring-iringan jenazah diberangkatkan menuju setra (pemakaman).
Di setra, sebelum jenazah diturunkan dari bade, Tarian Ketekok Jago kembali dipentaskan untuk mengiringi perjalanan atma menuju Swargaloka. Suasana pementasan seni seperti topeng, gender, dan angklung turut mewarnai jalannya upacara di tempat pemakaman.
Ada yang berbeda dengan upacara ngaben pada umumnya di Bali yang identik dengan prosesi kremasi atau pembakaran menggunakan api, tetapi upacara ngaben untuk JM Gede I Wayan Tang dilaksanakan dengan cara ditanam (mepaksa). Dijelaskan Disel, bahwa tradisi tersebut merupakan amanat sejarah turun-temurun yang dipegang oleh masyarakat di wilayah atas Pura Teges Sari, Ungasan.
”Sesuai dengan sejarah dari zaman dahulu kala, masyarakat kami yang berada di atas Pura Teges Sari, Ungasan Pecatu, secara utuh tidak boleh melakukan proses pembakaran. Gambarannya agar abu dari pembakaran tersebut tidak melewati Pura Luhur Uluwatu. Sehingga sampai hari ini kami tidak melaksanakan pengabenan dengan cara dibakar,” jelasnya.

Ia menambahkan, kremasi baru diperbolehkan dalam kondisi yang sangat khusus atau prinsipil, seperti karena faktor penyakit tertentu. Namun dalam kondisi normal, jenazah tetap ditanam.
Prosesi pengabenan ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat Bali yang datang memberikan penghormatan terakhir serta doa. Di antaranya Ketua DPRD Provinsi Bali, Wakil Gubernur Bali, serta Bupati Gianyar, I Made Agus Mahayastra.
Atas kelancaran seluruh rangkaian upacara dari tanggal 1 hingga 8 Agustus, Disel Astawa menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang terlibat.
”Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Banjar Adat Ungasan, para pemangku, PKK, banjar, Paiketan Semeton, serta para undangan dan tokoh masyarakat yang telah hadir mendoakan almarhum,” ungkapnya.
Rangkaian upacara lanjutan setelah prosesi di setra dan pelarungan (nganyut) ke segara (laut), rangkaian upacara masih akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan.
Pada Minggu (9/8/2026), dilaksanakan prosesi ngulapin ke segara dan mckelun (pembersihan tempat) agar seluruh tempat kembali bersih. Selanjutnya dilanjutkan dengan pemelaspas peyadnyan, ningsah, dan pengulapan kembali ke segara untuk menyucikan roh almarhum menjadi Sang Pitara.
Malam harinya, akan digelar prosesi ngekeb untuk peserta mepatat (potong gigi) yang diikuti oleh sekitar 10 orang anggota keluarga, mulai dari saudara, cucu, hingga keponakan. Puncak rangkaian penyekahan, potong gigi, serta ngangget don bingin direncanakan berlangsung pada Senin (10/8/2026) hingga puncak acara akhir pada 13 Agustus mendatang.
Disel Astawa juga menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan swadharma (tugas keagamaan) yang ditinggalkan almarhum sebagai pemangku secara turun-temurun.
”Harapan kami seluruh prosesi berjalan lancar, tenang, dan damai. Tugas beliau selaku pemangku akan dilanjutkan secara turun-temurun oleh keturunan berikutnya,” pungkasnya. tra/dx




















