Sosial Budaya

Perayaan Musik Lintas Benua, Ubud Village Jazz Festival 2025 Sukses Pukau Penonton

874 Views

OborDewata.com- GIANYAR– Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025 berhasil mencapai puncak perayaan di malam kedua. Festival ini kembali memikat penikmat musik jazz di jantung Lodtunduh. Dua hari penuh musik berkelas dunia menciptakan suasana riang dan intim.

“Acara ini akan terus berlanjut di tahun depan. Ini adalah idealisme kami bersama, saya dan Yuri,” ujar Anom Darsana, co-founder UVJF.

Tahun ini, UVJF 2025 fokus pada dua panggung utama. Giri Stage menampilkan pertunjukan big band dan harmoni berlapis. Subak Stage terletak di tepi sungai.

“Giri Stage kami siapkan untuk pertunjukan besar. Subak Stage menjadi panggung intim di tepi sungai,” jelasnya.

Subak Stage menawarkan pengalaman mendengarkan musik yang magis. Suara musik berpadu sempurna dengan gemericik air sungai. Ini menciptakan suasana yang sangat tenang dan penuh emosi.

“Di Subak Stage, musik menyatu dengan alam. Gemericik air sungai menjadi bagian dari harmoni,” katanya.

Hari kedua festival dimulai dengan penampilan Dizzy & Wicked. Kuartet electro-jazz ini memanaskan panggung dengan membawakan lagu-lagu andalannya. Mereka membawakan “Tentative Love”, “Canggu City Bob”, hingga “Lotus Blossom”.

“Dizzy & Wicked berhasil membangkitkan semangat penonton. *Groove* modern mereka sangat enerjik,” terangnya.

East West European Jazz Orchestra kemudian mengambil alih Giri Stage. Mereka mengubah suasana menjadi pesta swing dan funk lintas benua. Penonton disuguhkan lagu seperti “Almost Like Being in Love” dan “Love for Sale”.

“East West European Jazz Orchestra membawa energi internasional. Penampilan mereka sangat memukau,” imbuh Anom.

Mereka juga membawakan lagu “Samba Para Ubud”. Lagu ini seakan ditulis khusus untuk festival. Ini memberikan sentuhan personal bagi penonton yang hadir.

“Lagu ‘Samba Para Ubud’ terasa sangat spesial. Seolah-olah diciptakan untuk festival ini,” ungkap Anom.

Energi festival berlanjut di Subak Stage. Balawan Trio tampil bersama Jiyestha. Mereka memadukan jazz fusion dengan sentuhan musik tradisional Bali.

“Balawan Trio memberikan kejutan dengan perpaduan jazz dan gamelan Bali. Itu sangat unik,” ujarnya.

Balawan, dengan *double-neck guitar* virtuoso-nya, memukau penonton. Mereka membawakan “Travelling Nusantara”, “Dagang Sate”, dan “Bali Bach”. Penonton memberikan tepuk tangan meriah tanpa henti.

“Permainan gitar Balawan sangat luar biasa. Penonton terus bertepuk tangan,” jelas Anom Darsana.

Grup ROUGE dari Prancis menyajikan nuansa liris. Mereka membawakan lagu-lagu seperti “Tempête” dan “Strawberries in the Dark”. Lagu-lagu tersebut menciptakan lanskap melodi yang dalam dan penuh emosi.

“ROUGE membawa suasana yang berbeda. Melodi lirik mereka sangat menyentuh,” kata Anom Darsana.

Jazz Traveller kembali memanggil energi *bossa* dan *swing* klasik. Mereka membawakan “G. Blues” dan “Jazz Pasar”. Penampilan mereka mengalir mulus, membuka jalan untuk Makoto Kuriya Trio.

“Jazz Traveller membawakan lagu klasik yang enak didengar. Penampilan mereka sangat halus,” terang Anom Darsana.

Maestro asal Jepang, Makoto Kuriya Trio, menghipnotis Giri Stage. Mereka membawakan “Intro Blues”, “Jive Love”, “Sakura Garden”, hingga “Cherokee”. Penampilan mereka merentangkan batas-batas musikal lintas generasi.

“Makoto Kuriya adalah maestro sejati. Penampilannya memukau semua penonton,” imbuh Anom Darsana.

Menjelang larut, Mahanada menurunkan tempo di Subak Stage. Mereka membawakan “It Could Happen to You” dan “Round Midnight”. Suasana menjadi lebih intim.

“Mahanada membawa suasana yang lebih santai. Tampilannya sangat intim,” ungkap Anom Darsana.

Mahanada juga membawakan lagu orisinalnya, “Me Myself Nada”. Ini memberikan sentuhan personal pada penutup festival. Malam itu semakin terasa emosional dan hangat.

“Lagu orisinalnya, ‘Me Myself Nada’, sangat menyentuh hati. Suasananya jadi lebih personal,” ujarnya.

Malam kedua ditutup oleh dentuman besar Galaxy Big Band. Mereka menyalakan panggung dengan “The Wind Machine” dan “Feeling Good”. Penampilan ini menutup festival dengan energi luar biasa.

“Galaxy Big Band memberikan penutup yang spektakuler. Semua penonton ikut terbakar semangat,” jelas Anom Darsana.

Mereka juga membawakan lagu “Georgia on My Mind” dan “Coffee Rumba”. Penampilan ini menggema ke seluruh langit Lodtunduh. Festival berakhir dengan penuh kegembiraan.

“Penampilan Galaxy Big Band membuat semua orang gembira. Itu penutup yang sempurna,” kata Anom Darsana.

UVJF bukan hanya tentang musik. Tahun ini, arsitek festival Klick Swantara dan Diana Surya berkolaborasi. Mereka menggandeng Kadek Armika dan komunitas Rare Angon.

“Kami ingin festival ini lebih dari sekadar musik. Kami menggandeng komunitas lokal,” terang Anom Darsana.

Kolaborasi ini menghasilkan instalasi layang-layang raksasa. Instalasi ini menjadi bagian dari arsitektur artistik festival. Layangan Janggan berukuran monumental.

“Layang-layang raksasa menjadi bagian artistik festival. Itu sangat memukau,” imbuh Anom Darsana.

Ada juga layangan Wayang yang anggun dan Barong yang megah. Layangan-layangan ini digantung di jembatan sungai Sthala. Pemandangan ini menciptakan lanskap visual yang memikat.

“Layang-layang ini tidak diterbangkan. Kami pajang sebagai instalasi seni,” ungkap Anom Darsana.

Layangan ini menjembatani tradisi Bali dengan atmosfer jazz. Suasana jazz yang bebas dan kosmopolitan berpadu indah. Ini menjadi perpaduan budaya yang unik.

“Ini adalah perpaduan tradisi Bali dan jazz. Ini sangat unik dan indah,” ujarnya.

Kesadaran ekologi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari festival. UVJF menerapkan sistem gelas deposit untuk setiap pembelian minuman. Setiap pengunjung menyimpan gelas dengan deposit Rp10.000.

“Kami ingin menjaga lingkungan. Maka kami terapkan sistem gelas deposit,” jelas Anom Darsana.

Pengunjung bisa mengambil kembali deposit mereka. Mereka hanya perlu mengembalikan gelasnya. Atau, mereka bisa membawa pulang gelas sebagai suvenir.

“Pengunjung bisa bawa pulang gelasnya sebagai suvenir. Atau uang depositnya kembali,” kata Anom Darsana.

Sistem ini berhasil menjaga area festival tetap bersih. Hampir tidak ada jejak sampah plastik. Ini memberi contoh bahwa perayaan musik dapat selaras dengan alam.

“Festival kami nyaris tanpa sampah plastik. Kami tunjukkan musik bisa ramah lingkungan,” terang Anom Darsana.

UVJF telah berlangsung selama 12 tahun. Festival ini telah menjadi ikon baru di Ubud. Musisi dari berbagai belahan dunia datang ke sini.

“Selama 12 tahun, festival ini sudah menjadi ikon Ubud. Kami datangkan musisi dari berbagai negara,” imbuh Anom Darsana.

Penyelenggara berharap akan ada lebih banyak dukungan di masa depan. Mereka ingin *jazz* idealis seperti ini terus hidup. Mereka berterima kasih kepada semua pihak.

“Kami berharap ada lebih banyak dukungan. Agar jazz idealis terus hidup,” pungkasnya. ga