Hangat matahari pagi setia menemani langkah kaki Ketut Cica menuju Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM). Hari itu, ia harus menjalani tahapan pengobatan penting usai kemoterapi: program radioterapi atau sinar radiasi.
Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu 45 menit. Bagi Ketut, setiap menit di jalan terasa begitu melelahkan. Bukan sekadar lelah fisik, melainkan lelah batin. Sepanjang jalan, otaknya terus berkecamuk.
“Akankah saya sehat kembali? Akankah saya sembuh? Berumur panjangkah saya?” Ribuan pertanyaan tanpa jawaban itu terus berputar, menyerang ketenangan pikirannya tanpa henti.
Beban Pikiran yang Merenggut Senyuman
Beban berat yang enggan bergeser dari kepala membuat Ketut menjadi sosok yang pendiam. Ia enggan bicara. Senyumnya pun hanya segaris kecil. Bukan karena ia pelit berbagi kebahagiaan, melainkan karena energinya habis terkuras. Pikiran Ketut sepenuhnya tersita oleh satu hal bagaimana cara bertahan dan menjalani hidup di tengah bayang-bayang kanker.
Namun, mendung di wajah Ketut akhirnya menyingkap cahaya baru pada hari ini, Rabu (1/7/2026). Hari itu menjadi pembuka babak baru dalam hidupnya. Tahap terakhir radiasi penyinaran kanker yang melelahkan itu resmi berakhir.
Semangat dan kekuatan baru mendadak tumbuh di dalam dadanya. Pihak RS Bali Mandara memberikan sebuah kejutan manis: sekuntum Sun Flower (bunga matahari) sebagai tanda kelulusan Ketut dari rangkaian pengobatan kanker yang panjang.

Bunga Matahari dan Simbol Kehidupan Baru
Genggaman tangan Ketut pada Sun Flower itu seolah meruntuhkan tembok kecemasan yang selama ini mengurungnya. Senyum ceria yang sempat direnggut paksa oleh kanker kini kembali mekar di wajahnya. Bagi Ketut dan para pasien di RSBM, Sun Flower bukan sekadar bunga biasa. Ia adalah simbol doa, harapan, dan fajar kehidupan baru yang lebih cerah.
Meski demikian, garis finis radiasi bukan berarti perjuangan total telah selesai. Keluar dari ruang radioterapi justru membawa tantangan baru bagi para penyintas kanker. Pasca pengobatan, mereka dituntut untuk memiliki kedisiplinan dan kontrol diri yang sangat kuat. Penyintas harus membekali diri dengan pengetahuan mendalam tentang efek makanan, menjaga pola hidup bersih, serta mengelola stres agar sel-sel kanker tidak kembali mengusik tubuh.
Kanker Bukan Hanya Soal Obat
Di balik senyum bahagia Ketut hari ini, tersimpan sebuah pesan besar yang perlu didengar oleh pemangku kebijakan. Keberhasilan pengobatan di rumah sakit barulah satu tahap. Tantangan sesungguhnya bagi penyintas adalah bertahan hidup setelahnya.
Pemerintah dikritik untuk tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas medis dan obat-obatan di dalam gedung rumah sakit. Lebih dari itu, pemerintah harus hadir dalam sistem edukasi pasca-kanker yang sistematis.
Akses informasi mengenai gizi khusus penyintas, pengawasan produk makanan karsinogenik di pasar, hingga program pendampingan psikologis (mental health support) pasca-trauma kanker masih sangat minim. Pemerintah perlu membangun ekosistem pendukung yang kuat di masyarakat agar para penyintas tidak merasa berjuang sendirian saat kembali ke kehidupan normal.
Terima Kasih untuk Tangan-Tangan Baik
Perjalanan panjang melawan kanker ini mustahil dimenangkan sendirian. Rasa syukur dan ucapan terima kasih yang tak terhingga mengalir untuk seluruh tim medis para dokter, perawat, dan staf RS Bali Mandara yang tidak hanya memberikan perawatan medis terbaik, tetapi juga dukungan moral lewat simbol Sun Flower.
Apresiasi mendalam juga ditujukan kepada keluarga, kerabat, sesama penyintas, serta semua pihak yang terus mengalirkan doa, bantuan, dan energi positif. Tangan-tangan baik inilah yang menjadi pilar kekuatan bagi Ketut untuk terus melangkah maju.
Sun Flower dari RSBM hari ini menjadi saksi bahwa Ketut Sumiasih telah memenangkan satu pertempuran besar. Bunga matahari itu akan terus mekar di hatinya, menjadi pengingat bahwa setelah badai kanker yang gelap, selalu ada matahari pagi yang siap menghangatkan kehidupan barunya.
Oleh: I Kadek Saputra

