Nasional

Isu GSM dan Tri Hita Trans Satu Kendali Dibantah, Manajemen Tegaskan Tidak Ada Keterkaitan

868 Views

DENPASAR, OborDewata.com – Manajemen menegaskan bahwa Taksi GSM (Green and Smart Mobility) tidak memiliki hubungan kepemilikan maupun manajemen dengan Tri Hita Trans. Klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan spekulasi yang berkembang di masyarakat terkait dugaan kedua layanan transportasi tersebut berada dalam satu payung usaha.

General Manager PT Sentrik Persada Nusantara, Pande Yuliasanjaya, menyatakan bahwa Taksi GSM dan Tri Hita Trans merupakan dua entitas bisnis yang berdiri sendiri. Keduanya memiliki struktur kepemilikan, sistem pengelolaan, serta arah pengembangan yang berbeda.

“Kami perlu meluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Tidak ada hubungan korporasi, integrasi manajemen, maupun keterkaitan operasional antara GSM dan Tri Hita Trans,” tegasnya, Senin (23/2/2026).

Menurut Pande, anggapan bahwa kedua layanan tersebut saling terhubung berpotensi menimbulkan kekeliruan administratif hingga kesalahan komunikasi bisnis. Ia mengimbau masyarakat lebih cermat mengenali identitas perusahaan, mulai dari logo, atribut kendaraan, hingga aplikasi yang digunakan saat melakukan pemesanan.

 

Taksi GSM merupakan bagian dari ekspansi global Green and Smart Mobility yang didirikan oleh Pham Nhat Vuong melalui Vingroup di Vietnam. GSM dikenal sebagai salah satu operator taksi listrik yang mengembangkan layanan berbasis kendaraan listrik secara penuh di Indonesia dan Asia Tenggara.

Di Indonesia, GSM memulai operasional di Jakarta dan kemudian merambah Bekasi. Armada yang digunakan seluruhnya berbasis mobil listrik VinFast. Layanan dapat diakses melalui aplikasi, call center 14068, maupun dihentikan langsung di jalan. Identitas khasnya adalah armada berwarna hijau cerah.

GSM mengusung konsep “5 Goods”: good car, good driver, good price, good experience, dan good for environment, dengan fokus pada layanan modern dan komitmen terhadap transportasi ramah lingkungan.

Tri Hita Trans: Berbasis Desa Adat Bali

Sementara itu, Tri Hita Trans lahir dari konteks lokal Bali dengan mengusung filosofi Tri Hita Karana—harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Model bisnisnya berbasis desa adat, dengan tujuan memberdayakan sopir lokal serta memperkuat ekonomi komunitas.

Tri Hita Trans dirancang agar nilai tambah ekonomi dapat kembali ke desa melalui skema pengelolaan berbasis komunitas atau koperasi. Pendekatan ini diharapkan mampu meredam potensi konflik antara transportasi lokal dan layanan daring dari luar daerah.

Selain itu, penggunaan kendaraan listrik juga menjadi bagian dari komitmen mendukung pariwisata berkelanjutan di Bali.

Pande menegaskan bahwa seluruh kebijakan operasional, tarif, promosi, hingga manajemen pengemudi Taksi GSM sepenuhnya berada di bawah kendali internal GSM. Demikian pula Tri Hita Trans, yang dikelola secara independen bersama mitra desa adatnya.

Ia menilai, munculnya berbagai layanan transportasi listrik di Indonesia merupakan bagian dari dinamika ekonomi dan transformasi energi bersih. Namun, tidak semua layanan tersebut berada dalam satu grup usaha.

“Keduanya memiliki ruang dan visi masing-masing. Yang penting, masyarakat mendapatkan informasi yang benar agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ujarnya.

Dengan klarifikasi ini, manajemen berharap tidak ada lagi anggapan bahwa Taksi GSM dan Tri Hita Trans berada dalam satu kendali. Keduanya berdiri sendiri dan bertanggung jawab secara terpisah terhadap pengguna layanan. tra/dx