BADUNG, OborDewata.com – Riuh rendah kawasan Legian yang biasanya didominasi oleh deru mesin motor dan musik kafe, mendadak terasa berbeda pada Selasa (21/4/2026). Di salah satu sudut J4 Hotel, suasana khusyuk menyelimuti ruangan.
Bau dupa dan lantunan doa membubung, menandai puncak perayaan Janmashtami (hari kelahiran, red) Dewa Krishna yang dibawa langsung oleh 70 warga negara India ke jantung Pulau Dewata.
Namun, pertemuan ini bukan sekadar ritual setahun sekali. Di balik jubah spiritualitas, terselip sebuah misi besar: menjahit kembali hubungan historis antara India dan Bali menjadi sebuah kolaborasi global yang modern.

Bagi Prem Gorasiya, pengusaha asal India yang memimpin rombongan ini, Bali adalah rumah kedua bagi jiwa mereka. Ia bercerita bahwa inspirasi perjalanan ini justru datang dari kemegahan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK).
“Kehadiran patung Dewa Wisnu tertinggi di dunia itu menjadi magnet spiritual bagi kami. Ada energi yang sangat kuat di sini,” ungkap Prem dengan mata berbinar.
Selama delapan hari, rombongannya tidak hanya menetap di satu titik. Mereka berkeliling Bali, meresapi setiap jengkal tanah yang mereka anggap memiliki napas spiritual yang sama dengan tanah kelahiran mereka.
Menariknya, ada jembatan teknologi dialog yang bermula dari meja sembahyang ini segera bergeser ke meja diskusi teknologi. Di tengah rombongan, hadir perwakilan dari PT Sentrik Persada Nusantara yang memperkenalkan sebuah terobosan bernama TRIHITA.
Bukan sekadar aplikasi ponsel biasa, TRIHITA dirancang sebagai platform digital yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Bali ke dalam ekosistem ekonomi berkelanjutan.
India, dengan kekuatan raksasa teknologinya, dan Bali, dengan kekayaan budayanya, seolah menemukan frekuensi yang sama.
”Teknologi tidak seharusnya tercerabut dari akar budaya,” ujar salah satu pelaku industri yang hadir. Bagi mereka, TRIHITA adalah jembatan. Bali punya nilai, India punya pasar dan teknologi sebuah perjodohan ekonomi yang tampak sangat menjanjikan, diplomasi yang lebih humanis.
Sudut pandang hukum dan strategis juga memperkuat potensi kolaborasi ini. Marlena, S.H., M.H., seorang praktisi hukum dari DAS Enterprise, melihat fenomena ini sebagai bentuk diplomasi baru yang lebih lembut dan menyentuh.
Menurut Marlena, Bali saat ini berada di posisi yang sangat strategis. “Bali bukan lagi sekadar destinasi liburan. Pulau ini sedang bertransformasi menjadi hub kolaborasi internasional, terutama untuk energi bersih dan pariwisata berkelanjutan yang berbasis budaya,” tuturnya.
Ketika rangkaian Shrimad Bhagwat Katha berakhir, yang tersisa bukan hanya kenangan ritual keagamaan. Pertemuan di Legian tersebut telah meletakkan batu pertama bagi kerja sama lintas negara yang lebih bermakna. Bali sekali lagi membuktikan bahwa dirinya adalah ruang pertemuan yang ajaib.
Di pulau ini, doa-doa kuno bisa berjalan beriringan dengan inovasi digital, menciptakan sebuah masa depan di mana kemajuan ekonomi tidak harus mengorbankan jati diri bangsa. mas/sathya


