DENPASAR, OborDewata.com- Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Advokat Indonesia Suara Advokat Indonesia (DPC Peradi SAI) Denpasar kembali menggelar Pendidikan Profesi Advokat (PPA). Organisasi profesi ini menggandeng Fakultas Hukum Universitas Udayana guna memastikan standar kompetensi calon pengacara tetap terjaga tinggi.
“Kami memilih bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Udayana karena merupakan lembaga pendidikan hukum terbesar dan tertua di Bali,” ujar Sekretaris Jenderal DPN Peradi SAI, Dr. A. Patra M. Zen, S.H., LL.M.
Kerja sama strategis ini bertujuan memberikan bekal keterampilan dan pengetahuan yang mumpuni bagi para peserta didik. Patra menegaskan bahwa konsistensi standar pendidikan menjadi kunci utama dalam melahirkan advokat yang profesional dan berintegritas.
“Peserta harus mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dan pendalaman materi dengan baik agar siap menghadapi ujian kelulusan nanti,” kata Patra M. Zen menambahkan.
Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana, Prof. Dr. Putu Gede Arya Sumerta Yasa, menyambut baik kelanjutan kolaborasi yang telah terbina satu dekade. Pihak kampus fokus melakukan pendalaman materi pada aspek hukum formal dan praktik beracara di persidangan.
“Mahasiswa S1 umumnya lebih banyak menerima teori hukum sehingga memerlukan penekanan khusus pada aspek praktis profesi advokat,” tutur Prof. Arya Sumerta Yasa.
Ia juga menekankan pentingnya membangun karakter calon advokat yang berintegritas guna menangkis stigma negatif terhadap profesi hukum. Baginya, seorang penegak hukum harus berani menolak segala bentuk penyimpangan demi menjaga kepercayaan publik.
“Titik poin pendidikan ini adalah bagaimana peserta mampu bersikap bijak dan mengedepankan penegakan hukum di atas kepentingan materi,” ucap Prof. Arya tegas.
Sementara itu, Ketua DPC Peradi SAI Denpasar, I Wayan Purwita, menjelaskan bahwa kualitas menjadi fokus utama dalam pelaksanaan PPA kali ini. Pihaknya sangat selektif dalam memilih instruktur yang berasal dari kalangan akademisi, praktisi senior, hingga unsur pengadilan.
“Seluruh pengajar merupakan para ahli di bidangnya masing-masing demi mewujudkan moto tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian,” kata Wayan Purwita.
Pendidikan yang berlangsung hingga Mei mendatang ini diikuti oleh sekitar 30 peserta dengan jadwal kelas eksekutif setiap akhir pekan. Kurikulum mencakup berbagai hukum acara, mulai dari perdata, pidana, hingga prosedur bersidang di Mahkamah Konstitusi.
“Kami membatasi jumlah peserta agar proses transfer ilmu berjalan maksimal dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kualitas lulusan kami,” ujar Wayan Purwita. ga.


