Daerah

Wayan Koster Motivasi Siswa SMKN 3 Kintamani, Kisah Hidup dari Buruh hingga Jadi Gubernur Menginspirasi

871 Views

BANGLI, OborDewata.com – Wayan Koster menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-17 SMKN 3 Kintamani di Desa Dausa, Kecamatan Kintamani, Bangli, Senin (11/5/2026). Kehadiran orang nomor satu di Bali tersebut disambut antusias ribuan siswa, guru, dan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Koster tidak hanya memberikan motivasi pendidikan, tetapi juga membagikan perjalanan hidupnya sejak kecil yang penuh perjuangan. Di hadapan para siswa, ia mengenang masa kecilnya yang tumbuh dalam kondisi ekonomi serba terbatas di desa.

Koster mengaku sejak duduk di bangku kelas 4 SD sudah bekerja membantu orang tua demi membiayai sekolah. Berbagai pekerjaan kasar pernah dilakoninya, mulai dari memburuh nyangkul, membajak sawah, hingga mengangkut bata merah dan material bangunan dengan berjalan kaki beberapa kilometer.

“Semua hasil kerja saya waktu itu langsung diberikan kepada ibu untuk biaya sekolah,” ujar Koster.

Ia mengatakan pengalaman hidup yang keras justru membentuk karakter disiplin dan mental kuat. Dari lima bersaudara, hanya dirinya yang mampu melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Berbekal kemampuan akademik di bidang matematika dan ilmu pengetahuan, Koster akhirnya diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk bertahan hidup selama kuliah, ia mengajar les privat matematika sambil menyelesaikan studinya.

Menurut Koster, perjuangan tersebut menjadi pelajaran penting bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh mematahkan semangat meraih pendidikan.

“Kalau hidup susah jangan menyerah. Kerja keras dan disiplin akan membuka jalan,” katanya disambut tepuk tangan siswa.

Dalam sambutannya, Koster juga menegaskan komitmennya terhadap pembangunan sektor pendidikan di Bali. Ia mengaku pengalaman hidupnya membuat dirinya tidak ingin ada anak Bali putus sekolah karena masalah biaya.

Karena itu, sejak menjadi anggota DPR RI, dirinya aktif memperjuangkan berbagai program pendidikan nasional seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bantuan siswa miskin, hingga regulasi kesejahteraan guru yang melahirkan tunjangan profesi guru.

Menurutnya, pendidikan merupakan kunci utama memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Bali.

Koster juga menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan, termasuk upayanya menghadirkan minimal satu SMA dan satu SMK di setiap kecamatan di Bali.

Di hadapan siswa SMKN 3 Kintamani, Koster meminta generasi muda Bali tidak minder meski berasal dari desa. Ia menilai lulusan sekolah vokasi memiliki peluang besar bekerja di tingkat internasional, khususnya pada sektor pariwisata dan hospitality.

Ia mengapresiasi perkembangan SMKN 3 Kintamani yang kini memiliki hampir 900 siswa dengan berbagai jurusan yang sesuai kebutuhan dunia kerja.

“Jurusan hotel dan restoran sangat cocok dikembangkan karena Kintamani merupakan kawasan wisata internasional,” ujarnya.

Koster menambahkan, banyak lulusan sekolah vokasi asal Bali kini bekerja di Jepang, Korea Selatan, Eropa hingga kapal pesiar internasional. Menurutnya, karakter disiplin, jujur, dan pekerja keras menjadi keunggulan anak-anak Bali di mata dunia kerja internasional.

Dalam suasana penuh keakraban, Koster juga sempat berinteraksi langsung dengan siswa yang memiliki nama depan Komang dan Ketut. Ia menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya Bali, termasuk sistem penamaan tradisional.

Sebagai bentuk perhatian terhadap keberlangsungan keluarga Bali dengan empat keturunan, Koster menyerahkan bantuan pribadi kepada siswa dengan urutan anak ketiga dan keempat.

“Gunakan untuk membeli buku pelajaran,” pesannya kepada para siswa penerima bantuan.

Sementara itu, Kepala SMKN 3 Kintamani, I Komang Widiada menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Koster terhadap pembangunan pendidikan di Bangli.

Ia mengatakan perkembangan sekolah berlangsung sangat pesat. Dari awal berdiri dengan sekitar 119 siswa, kini jumlah peserta didik mencapai 897 orang dan banyak lulusannya telah bekerja di luar negeri maupun menjadi wirausaha mandiri.

“Sejarah berdirinya sekolah ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak yang peduli terhadap pendidikan,” ujarnya. (tim/rls)