Berita

Sektor Properti Tumbuh Positif, Komang Jimmy: Investasi Properti Pariwisata Capai Puncak Emas

881 Views

DENPASAR, OborDewata.com — Sektor properti di Bali kembali menunjukkan pertumbuhan positif seiring dengan pemulihan industri pariwisata global. Setelah sempat terpuruk akibat pandemi COVID-19, kini pasar vila di Pulau Dewata kembali menggeliat dan menjadi magnet bagi investor domestik maupun internasional.

Data dari Bank Indonesia (BI) mencatat, Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) Bali pada triwulan II tahun 2025 mencapai 124,26, naik signifikan dibanding 115,28 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini ditopang oleh meningkatnya permintaan akomodasi berbasis privasi dan konsep “home away from home” yang menjadi tren baru di kalangan wisatawan.

Laporan dari Indonesian Business Association of Investors (IBAI) juga menunjukkan bahwa pendapatan sektor properti Bali mencapai USD 142 juta (sekitar Rp2,3 triliun) per Juni 2024, atau tumbuh 33 persen dibanding bulan sebelumnya. Kawasan Canggu, Seminyak, Uluwatu, dan Ubud tercatat sebagai wilayah dengan pertumbuhan tertinggi, dengan kenaikan harga lahan dan vila rata-rata 10–15 persen per tahun, bahkan di beberapa kawasan premium mencapai 20–25 persen.

Tren Vila dan Wisata Berkepanjangan

Pengusaha muda Bali, Komang Jimmy, menilai peningkatan permintaan vila merupakan dampak dari perubahan pola wisata pascapandemi. “Sekarang wisatawan datang bukan hanya untuk liburan singkat, tapi juga bekerja jarak jauh atau bahkan menetap. Mereka mencari kenyamanan seperti di rumah sendiri, tapi tetap dengan nuansa tropis khas Bali,” ujarnya saat ditemui di Denpasar, Selasa (28/10).

Jimmy yang juga dikenal sebagai pengembang properti pariwisata mengatakan bahwa tren ini bukan sekadar fenomena sementara, melainkan pergeseran permanen dalam gaya hidup global. Ia menilai konsep vila kini menjadi simbol keseimbangan antara produktivitas dan relaksasi, terutama bagi kalangan profesional internasional yang menerapkan sistem kerja jarak jauh.

Keseimbangan Bisnis dan Lingkungan

Meski prospek pasar vila di Bali tergolong menjanjikan, Jimmy menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. “Pembangunan harus memperhatikan tata ruang, daya dukung alam, dan kearifan lokal. Kalau vila dibangun dengan konsep eco-living, memakai tenaga kerja lokal, dan memberi manfaat bagi desa adat, maka semua pihak akan diuntungkan,” katanya.

Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang terus memperketat regulasi perizinan pembangunan vila. Menurutnya, kebijakan ini penting untuk mencegah terjadinya ketimpangan sosial serta memastikan investasi asing tetap menghormati aturan lokal dan nilai-nilai masyarakat adat Bali.

Optimisme Menyongsong 2027

Komang Jimmy memproyeksikan bahwa periode 2025–2027 akan menjadi masa keemasan sektor properti pariwisata Bali, seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan yang diperkirakan mencapai 17 juta orang per tahun, termasuk 6,5 juta wisatawan mancanegara. Ia menilai kombinasi antara desain arsitektur Bali modern, pengelolaan profesional, serta kepedulian terhadap budaya dan lingkungan akan menjadi kunci keberlanjutan industri ini.

“Bali bukan hanya destinasi, tetapi gaya hidup. Kalau kita rawat alam dan budayanya, maka pariwisata dan properti akan tumbuh bersama. Ini saatnya generasi muda Bali ikut membangun dengan cara yang bijak dan berjiwa Bali,” pungkas Jimmy. tra/ama/dx