• Redaksi
  • Undang-undang Pers
  • Disklaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Agustus 12, 2026
  • Login
OborDewata
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini
No Result
View All Result
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini
No Result
View All Result
OborDewata
No Result
View All Result
Home Opini

Pariwisata Regeneratif: Jalan Baru Bali Menjaga Desa, Budaya, dan Alam

Redaksi Obor Dewata by Redaksi Obor Dewata
12/08/2026
in Opini
0

168
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BacaJuga

Sekda Tabanan Pastikan Pemkab Kooperatif, Hormati Proses Hukum Dugaan Korupsi Dinas Kesehatan

OJK Perkuat Integritas Pasar Modal, ETF Emas Resmi Diluncurkan

Oleh: Trisno Nugroho – Pengurus PHRI
Doktor Pariwisata Universitas Udayana

Bali tidak pernah kekurangan pesona. Alamnya indah, budayanya kuat,
masyarakatnya ramah, dan tradisinya tetap hidup di tengah arus perubahan zaman.

Namun, justru karena begitu dicintai dunia, Bali juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kunjungan wisatawan terus meningkat, ruang semakin padat, sampah menjadi persoalan serius, air dan lahan menghadapi tekanan, sementara budaya lokal harus terus dijaga agar tidak sekadar menjadi tontonan.

Di tengah kondisi tersebut, Bali membutuhkan cara pandang baru dalam membangun pariwisata. Tidak cukup lagi hanya bertanya berapa banyak wisatawan datang, berapa hotel terisi, atau berapa besar transaksi ekonomi tercipta. Pertanyaan yang lebih
penting hari ini adalah: apakah pariwisata membuat Bali menjadi lebih baik?
Inilah inti dari pariwisata regeneratif.
Pariwisata regeneratif bukan sekadar pariwisata yang berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan berusaha menjaga agar pariwisata tidak merusak. Sementara pariwisata regeneratif bergerak lebih jauh: pariwisata harus ikut memulihkan, memperkuat, dan meningkatkan kualitas tempat. Artinya, pariwisata bukan hanya mengurangi dampak negatif, tetapi menciptakan manfaat positif bagi masyarakat,
budaya, alam, dan masa depan destinasi.
Dengan bahasa sederhana, pariwisata regeneratif bertanya: setelah wisatawan
datang dan pergi, apakah desa menjadi lebih kuat? Apakah budaya semakin terjaga?

Apakah lingkungan semakin pulih? Apakah masyarakat lokal semakin sejahtera?
Apakah wisatawan pulang membawa kesadaran baru untuk lebih menghormati Bali?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sangat relevan ketika kita melihat Desa Wisata
Penglipuran. Penglipuran adalah salah satu wajah terbaik Bali. Desa ini dikenal bersih, tertata, berbudaya, memiliki tata ruang tradisional yang kuat, hutan bambu yang indah, rumah adat yang terawat, serta masyarakat yang menjaga nilai-nilai desa adat.

Penglipuran adalah contoh bahwa pariwisata dan kehidupan adat dapat berjalan berdampingan.
Namun, keberhasilan Penglipuran juga membawa tantangan baru. Ketika semakin terkenal, kunjungan meningkat. Desa menjadi semakin ramai. Sampah harus dikelola lebih baik. Hutan bambu perlu ditata lebih serius. Jalur kunjungan harus dijaga. Rumput dan ruang desa tidak boleh terus-menerus menerima tekanan. Masyarakat juga perlu tetap menjadi pemilik utama arah pembangunan desa, bukan hanya
menjadi pelengkap dari aktivitas wisata. Dari Penglipuran kita belajar satu hal penting: desa wisata yang berhasil tidak boleh berhenti pada keberhasilan. Ia harus terus memperbarui diri.
Dalam penelitian saya tentang Penglipuran, saya menemukan bahwa pengetahuan dan pemahaman masyarakat sangat menentukan keterlibatan mereka dalam pengembangan pariwisata. Masyarakat yang hanya tahu belum tentu mau terlibat.

Tetapi masyarakat yang memahami makna pariwisata, manfaatnya, risikonya, dan tanggung jawabnya, akan lebih terdorong untuk ikut menjaga desanya. Karena itu, pembangunan desa wisata tidak cukup hanya dengan promosi, pembangunan fasilitas, atau penambahan atraksi. Yang jauh lebih penting adalah membangun
pemahaman bersama. Desa wisata harus menjadi gerakan masyarakat, bukan hanya program pemerintah atau proyek pengelola.

Keterlibatan masyarakat terbukti menjadi kunci. Ketika masyarakat terlibat, pariwisata dapat memperkuat ekonomi lokal, menghidupkan UMKM, membuka ruang bagi generasi muda, memperkuat rasa memiliki, dan memberi pengalaman yang lebih bermakna bagi wisatawan. Namun, ada catatan penting: keterlibatan masyarakat belum otomatis memulihkan lingkungan. Pemulihan lingkungan membutuhkan sistem yang lebih jelas, terukur, dan konsisten.
Di sinilah pariwisata regeneratif menjadi penting. Ia mengajak kita untuk tidak hanya merawat yang sudah baik, tetapi juga memperbaiki yang mulai tertekan.
Untuk menjelaskan gagasan ini secara sederhana, saya merumuskan Model
REGENESIS, yang dapat dipahami sebagai Model 6M.

Pertama, Memulihkan. Pariwisata harus ikut memulihkan lingkungan, budaya, dan
kehidupan sosial. Jika ada kawasan yang rusak karena tekanan kunjungan, harus
dipulihkan. Jika ada nilai budaya yang mulai melemah, harus dikuatkan kembali.
Kedua, Menjaga daya dukung tempat. Setiap desa, pantai, hutan, pura, kawasan
heritage, dan kota memiliki batas. Pariwisata yang baik harus menghormati batas itu.

Bali tidak boleh dipaksa menanggung beban kunjungan tanpa memperhitungkan air, sampah, lalu lintas, ruang, dan kenyamanan warga.
Ketiga, Memberi manfaat lebih besar. Pariwisata harus memberi manfaat positif yang lebih besar daripada beban yang ditimbulkan. Pendapatan dari pariwisata harus kembali untuk masyarakat lokal, desa adat, lingkungan, budaya, dan peningkatan
kualitas destinasi. Keempat, Menguatkan budaya dan masyarakat. Budaya Bali tidak boleh hanya menjadi dekorasi pariwisata. Adat, ritual, bahasa, arsitektur, kuliner, seni, nilai Tri Hita
Karana, dan kehidupan masyarakat harus semakin kuat karena pariwisata, bukan
melemah karena pariwisata.
Kelima, Menyatukan para pihak. Pariwisata regeneratif tidak bisa dikerjakan sendirisendiri. Desa adat, pengelola destinasi, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, wisatawan, dan generasi muda harus bekerja bersama.

Keenam, Membangun sistem yang terus belajar. Destinasi harus berani
mengevaluasi diri. Berapa sampah yang dihasilkan? Apakah masyarakat merasa
diuntungkan? Apakah wisatawan memahami nilai budaya? Apakah lingkungan membaik? Apakah manfaat ekonomi merata? Tanpa data dan evaluasi, pariwisata akan mudah terjebak pada rutinitas dan promosi semata.
Model ini lahir dari Penglipuran, tetapi pelajarannya penting bagi desa wisata lain di Bali dan Indonesia. Setiap desa tentu tidak harus meniru Penglipuran. Desa pesisir punya tantangan berbeda dengan desa pegunungan. Desa pertanian berbeda dengan desa budaya. Kawasan kota tua berbeda dengan desa adat. Tetapi prinsipnya sama: pariwisata harus membuat tempat menjadi lebih baik.

Di desa pesisir, pariwisata regeneratif dapat berarti membersihkan pantai,
mengurangi sampah laut, memperkuat nelayan, dan memulihkan ekosistem pesisir.

Di desa pertanian, pariwisata regeneratif dapat berarti menjaga sawah, air, benih
lokal, dan martabat petani. Di desa budaya, pariwisata regeneratif berarti memperkuat regeneratif dapat berarti menghidupkan kembali kawasan heritage, ruang publik, UMKM, transportasi publik, dan kualitas hidup warga. Bagi Bali, pendekatan ini sangat mendesak. Bali sudah menjadi destinasi dunia. Tetapi menjadi destinasi dunia tidak cukup. Bali harus tetap menjadi rumah budaya, ruang hidup masyarakat, dan pulau yang alamnya dijaga dengan sungguh-sungguh.

Masa depan pariwisata Bali tidak boleh hanya diukur dari ramainya kunjungan. Masa depan Bali harus diukur dari semakin kuatnya desa adat, semakin pulihnya lingkungan, semakin sejahteranya masyarakat lokal, semakin berkualitasnya wisatawan, dan semakin terjaganya taksu Bali.
Penglipuran telah memberi pelajaran penting. Ketenaran bukan tujuan akhir.
Ketenaran harus menjadi energi untuk merawat desa, menjaga budaya, memulihkan alam, dan memperkuat masyarakat. Itulah jalan pariwisata regeneratif. Bali tidak
cukup hanya lestari. Bali harus mampu beregenerasi.

Karena pariwisata terbaik bukan hanya yang membuat wisatawan datang, tetapi
yang membuat desa, budaya, masyarakat, dan alam menjadi lebih baik setelah wisatawan pergi.

Tentang Penulis
Dr. Trisno Nugroho, S.E., MBA. adalah Doktor Pariwisata Universitas Udayana
dengan disertasi berjudul Model Pengembangan Pariwisata Regeneratif di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Penulis juga merupakan pengamat ekonomi dan pariwisata, Pengurus PHRI Bali, dan Dewan Pembina BaliCeb. (*)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X

Menyukai ini:

Suka Memuat...
spot_img
Redaksi Obor Dewata

Redaksi Obor Dewata

Related Posts

Menakar Substansi Demokrasi Kabinet Merah Putih
Opini

Menakar Substansi Demokrasi Kabinet Merah Putih

08/08/2026
Prof Tadjudin Ungkap Jeritan Mematikan di Balik Beton, Rampas Hak Rakyat
Opini

Liarnya Korupsi di Indonesia, Nilainya Fantastis

04/08/2026
Menjaga Petani, Menjaga Bali: Menguatkan Sawah, Subak, dan Masa Depan Pariwisata
Opini

Menjaga Petani, Menjaga Bali: Menguatkan Sawah, Subak, dan Masa Depan Pariwisata

28/07/2026
Kremasi di Bali, Pilihan Budaya atau Pelarian dari Tekanan Sosial?
Opini

Dilemanya Petani Bali, Antara Tanam Padi atau Tanam Beton

25/07/2026
Indonesia Emas Tahun 2045 Hanya Impian? Menjadi Tua Sebelum Kaya
Opini

Indonesia Emas Tahun 2045 Hanya Impian? Menjadi Tua Sebelum Kaya

21/07/2026
Prof Tadjuddin: Koperasi Desa Merah Putih Untuk siapa?
Opini

Prof Tadjuddin: Koperasi Desa Merah Putih Untuk siapa?

06/07/2026
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Menakar Substansi Demokrasi Kabinet Merah Putih

Menakar Substansi Demokrasi Kabinet Merah Putih

08/08/2026
Prof Tadjudin Ungkap Jeritan Mematikan di Balik Beton, Rampas Hak Rakyat

Liarnya Korupsi di Indonesia, Nilainya Fantastis

04/08/2026
Vinfast Bersama PT Sentrik Persada Nusantara Hadirkan Motor Listrik di Bali

Vinfast Bersama PT Sentrik Persada Nusantara Hadirkan Motor Listrik di Bali

29/07/2026
Lawan Kanker di Usia Dini, Penyintas Kanker Ketut Cica Bersama YKI Bali Berikan Edukasi ke SMAN 1 Blahbatuh

Lawan Kanker di Usia Dini, Penyintas Kanker Ketut Cica Bersama YKI Bali Berikan Edukasi ke SMAN 1 Blahbatuh

08/08/2026
Bupati Tabanan Sembahyang di Pura Luhur Batukau Berdoa Pandemi Covid-19 Segera Berlalu

Bupati Tabanan Sembahyang di Pura Luhur Batukau Berdoa Pandemi Covid-19 Segera Berlalu

0
Tekan Penyebaran Covid-19, PDIP Bali Dukung dan Kawal Kebijakan PPKM Darurat

Tekan Penyebaran Covid-19, PDIP Bali Dukung dan Kawal Kebijakan PPKM Darurat

0
PLN Berikan Stimulus pada Masyarakat Kecil di tengah Pandemi Covid-19

PLN Berikan Stimulus pada Masyarakat Kecil di tengah Pandemi Covid-19

0
Dandim dan Kapolres Tabanan Distribusikan Sembako untuk Warga Terdampak PPKM Darurat

Dandim dan Kapolres Tabanan Distribusikan Sembako untuk Warga Terdampak PPKM Darurat

0
Pariwisata Regeneratif: Jalan Baru Bali Menjaga Desa, Budaya, dan Alam

Pariwisata Regeneratif: Jalan Baru Bali Menjaga Desa, Budaya, dan Alam

12/08/2026
Sekda Tabanan Pastikan Pemkab Kooperatif, Hormati Proses Hukum Dugaan Korupsi Dinas Kesehatan

Sekda Tabanan Pastikan Pemkab Kooperatif, Hormati Proses Hukum Dugaan Korupsi Dinas Kesehatan

11/08/2026
OJK Perkuat Integritas Pasar Modal, ETF Emas Resmi Diluncurkan

OJK Perkuat Integritas Pasar Modal, ETF Emas Resmi Diluncurkan

11/08/2026
Bali Dapat 4.184 Unit Bedah Rumah, Sekda Dewa Indra Dampingi Menteri PKP Tinjau Program di Tonja

Bali Dapat 4.184 Unit Bedah Rumah, Sekda Dewa Indra Dampingi Menteri PKP Tinjau Program di Tonja

11/08/2026
Currently Playing
Pariwisata Regeneratif: Jalan Baru Bali Menjaga Desa, Budaya, dan Alam

Pariwisata Regeneratif: Jalan Baru Bali Menjaga Desa, Budaya, dan Alam

12/08/2026
Sekda Tabanan Pastikan Pemkab Kooperatif, Hormati Proses Hukum Dugaan Korupsi Dinas Kesehatan

Sekda Tabanan Pastikan Pemkab Kooperatif, Hormati Proses Hukum Dugaan Korupsi Dinas Kesehatan

11/08/2026
OJK Perkuat Integritas Pasar Modal, ETF Emas Resmi Diluncurkan

OJK Perkuat Integritas Pasar Modal, ETF Emas Resmi Diluncurkan

11/08/2026

TENTANG OBOR DEWATA

Obordewata merupakan salah satu media online yang terpecaya dengan menyajikan berita secara aktual.

obordewata.png
Obordewata
  • Redaksi
  • Undang-Undang Pers
  • Disklaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

© 2026 obordewata.com

No Result
View All Result
  • Nasional
    • Daerah
  • Olahraga
  • Ekonomi Bisnis
  • Hukum
  • Sosial Budaya
  • Pendidikan
  • Politik
  • Opini

© 2026 obordewata.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
%d