Sosial Budaya

Prof. Tirka Widanti Ungkap Aplikasi ‘Tri Hita Trans’ Digitalisasi Budaya Perkuat Eksistensi Desa Adat di Bali

Tri Hita Trans Lokomotif Baru Memajukan Desa Adat di Bali
896 Views

DENPASAR, OborDewata.com – Transformasi digital di Bali kini tidak lagi sekadar soal efisiensi teknologi, melainkan telah merambah pada penguatan akar budaya. Akademisi sekaligus pakar budaya, Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum., memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran aplikasi Tri Hita Trans. Menurutnya, inovasi ini menjadi lokomotif baru dalam memajukan Desa Adat di Bali di era modern.

​Prof. Tirka yang juga menjadi Rektor di Universitas Ngurah Rai, menekankan bahwa konsep filosofis Tri Hita Karana (THK) sebagai Way Of Life, dimana keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam adalah identitas yang melekat pada krama Bali di mana pun mereka berada. Untuk itulah kehadiran Aplikasi Tri Hita Trans garapan PT Sentrik Persada Nusantara merupakan suatu bentuk keseimbangan digitalisasi antar desa adat guna memperkuat sekaligus menjaga stabilitas penguatan ekonomi desa.

​”Konsep THK selalu melekat dengan kehidupan masyarakat Bali. Dengan banyaknya pihak yang membumikan konsep ini ke dalam penjajaran yang lebih luas melalui teknologi, maka THK akan semakin kokoh sebagai way of life atau pandangan hidup,” ujar Prof. Tirka pada Rabu (18/2/2026).

Beliau menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah membawa filosofi tersebut ke tatanan implementasi nyata. Dengan hadirnya platform digital seperti Tri Hita Trans, THK diharapkan bertransformasi menjadi lifestyle (gaya hidup) masa kini.

Salah satu poin menarik yang disampaikan Prof. Tirka adalah dampak psikologis positif terhadap masyarakat yang mampu menciptakan ekosistem sosial yang positif. Menurutnya, ketika sebuah konsep luhur telah menjadi tren dan gaya hidup yang terintegrasi secara digital, akan muncul rasa memiliki yang tinggi di tengah masyarakat.

​”Secara sederhana, saya melihat Aplikasi Tri Hita Trans sangat positif. Masyarakat nantinya akan merasa bersalah atau malu jika tidak terlibat di dalamnya. Ini adalah bentuk kontrol sosial alami untuk menjaga kelestarian budaya kita,” imbuhnya.

Menutup keterangannya, Prof. Tirka menegaskan pentingnya dukungan kolektif terhadap setiap gerakan yang bertujuan memajukan Desa Adat. Beliau mengimbau agar setiap rencana kegiatan masyarakat yang bernapaskan pelestarian budaya wajib mendapatkan dukungan penuh (support) dari berbagai pihak.

​Kehadiran Tri Hita Trans diharapkan tidak hanya menjadi alat transaksi atau koordinasi semata, tetapi menjadi simbol kebangkitan Desa Adat yang melek teknologi tanpa meninggalkan jati diri spiritualnya. tra/dx