Politik

Singgasana Seni Bung Karno Hidupkan Kembali ‘Napas Estetika’ Sang Proklamator

865 Views

DENPASAR, OborDewata.com – Di tanah yang dikenal sebagai pusat pengetahuan lama yang terjaga, sebuah perhelatan seni bertajuk “Singgasana Seni Bung Karno” resmi dibuka. Acara ini bukan sekadar panggung pertunjukan biasa, melainkan sebuah ruang refleksi untuk menggali kembali warisan batin dan kecintaan mendalam Sang Fajar terhadap dunia seni.

Ketua Panitia, Diah Safira Octaliakasih Parameswari Padamadewi menjelaskan, narasi pembuka acara membawa hadirin kembali ke akar budaya Bung Karno. Mewarisi kehalusan rasa dari ibundanya yang berdarah Bali, bagi Bung Karno, seni bukanlah sekadar hiasan dinding atau pelengkap seremoni.

“Ada yang magis dari Bali. Dari tanah berakar kebudayaan itulah lahir seorang anak yang kelak kita kenal sebagai Bung Karno,” ungkapnya pada Sabtu (28/2/2026) dalam pembukaan yang khidmat. Bagi sang Proklamator, seni adalah cara untuk merasakan, memahami, dan membangun kehidupan itu sendiri.

Acara ini menyoroti bagaimana dalam diri Bung Karno, politik dan estetika bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya menyatu dalam setiap gerak langkahnya:

Pidato yang menjelma komposisi nada yang membakar semangat. Gagasan yang mewujud dalam arsitektur ikonik bangsa. Keberanian yang tumbuh dari keyakinan akan martabat manusia.

Kutipan abadi Bung Karno, “Aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah seni,” menjadi ruh utama yang melandasi setiap penampilan dalam “Singgasana Seni” kali ini.

Bukan Sekadar Kenangan, Tapi Keberlanjutan, dimana puncak acara ditegaskan sebagai sebuah pernyataan bahwa seni adalah denyut kehidupan bangsa. Melalui perpaduan gerak, suara, cahaya, dan karya, hadirin diajak untuk tidak hanya menengok masa lalu, tetapi menjawab panggilan masa depan.

“Yang kita saksikan hari ini bukan sekadar kenangan, tetapi keberlanjutan. Singgasana Seni Bung Karno adalah perayaan jiwa, karena perjuangan melalui seni belum pernah selesai,” paparnya.

Penyelenggaraan ini diharapkan mampu memantik kembali “rasa” dalam berbangsa, membuktikan bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa lahir dari kedalaman seni dan budaya. mas/tra