Nasional

Wakil Ketua Perindo Denpasar : Jangan Terlalu Suci Tutup Pendakian Gunung, Sexy Dance Pakai Bikini Banyak di Beach Club

841 Views

DENPASAR, OborDewata.com – terkait kebijakan Gubernur Bali yang melarang pendakian gunung di Bali, karena ingin menjaga kesucian gunung lantaran banyaknya turis asing yang berbuat onar, dan juga Koster menilai kesucian alam di Pulau Dewata, termasuk gunung juga harus dijaga.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua Partai Perindo Denpasar, A A Gede Agung Aryawan ST mengatakan, alasan Gubernur Bali Koster melarang pendakian gunung di Bali, kurang berlogika. Pasalnya, masyarakat Krama Adat Bali tentu akan lebih memilih menjaga kesucian pura yang merupakan tempat mereka melakukan sembahyang sesuai keyakinan Agama Hindu.

“Pura Besakih, Pura Uluwatu, Pura Tanah Lot dan puluhan pura besar lainnya yang sangat tegas dalam Ajaran Agama Hindu merupakan Tempat Ibadah Nan Sakral dan Suci terbuka untuk wisatawan, tapi kok malahan mendaki gunung dilarang dengan alasan mengurangi kesakralan & kesucian. Apakah nalar berpikir logis & realistis sudah tidak ada kecerdasannya ?. Sangat tidak masuk akal ini,” tegasnya pada Minggu (4/6/2023).

Ditambahkan Gung Aryawan, berdasarkan teori Ecotourism atau ekowisata, sejatinya kegiatan mendaki gunung dan wisata ke alam itu harus lebih banyak dilakukan untuk memberi rasa cinta ke alam. Merujuk definisi The International Ecotourism Society (TIES), ekowisata adalah perjalanan yang dilakukan dengan tanggung jawab ke kawasan alam untuk melestarikan lingkungan serta menopang kesejahteraan masyarakat lokal.

Apalagi dalam konsep Nangun Sad Kerthi Loka Bali ada 6 hal disucikan, jangan sampai danau, pantai/segara, hutan/wana dan lainnya juga akan di larang sebagai tempat wisata karena alasan sakral & suci.  “Coba lihat pantai sebagai destinasi wisata juga banyak sekali para Tourist berjemur, pakai bikini berdampingan dengan masyarakat Krama Adat Bali yang sedang menyelenggarakan Upacara Agama,” paparnya.

Menurut Gung Aryawan seharusnya Gubernur Bali Wayan Koster mesti melihat secara lebih bijaksana secara terukur dengan kajian Akademis, jangan membuat kebijakan Publik yang hanya melihat kondisi lapangan sesaat kasus per kasus karena ada Oknum Bule telanjang saat mendaki Gunung.

“Bali membutuhkan  pariwisata alam disamping Wisata Budaya, termasuk juga wisata diskotik dan beach Club tempat wisatawan minum alkohol dengan joged music Disco memakai bikini yang Sexy. Janganlah kita terlalu hidup dengan kemunafikan, katakan diri paling menjaga Kawasan Suci tapi seakan tidak pernah melihat fakta lapangan terkait Sexy Dance,” pungkasnya. de/sathya