LifeStyleNasional

Sutradara Anggi Noen Tantang Gen Z Berkreasi Film

Jangan Cuman Jadi Penonton Digital
2624 Views

GIANYAR, OborDewata.com – Masif perkembangan digital membuat perubahan pola hidup, seperti halnya pada ponsel yang terus mengalami perubahan seiring dengan kemajuan jaman. Ponsel pintar pun diburu, entah itu hanya untuk gengsi ataupun memang untuk kepentingan positif. Menyikapi hal tersebut Sutradara Film, Yosep Anggi Noen dengan sederet prestasinya menantang para Gen Z untuk berkreasi membuat film dengan menyuarakan gagasan yang substansial.

​Anggi Noen mengungkapkan, tantangan ini dilakukan untuk Gen Z untuk keluar dari zona nyaman konten instan dan mulai berkreasi lewat medium film. Dengan teknologi di tangan gagasan ada di kepala. “Gen Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh berdampingan dengan kamera serta internet. Mereka memiliki kedekatan organik dengan visual,” ungkapnya ketika ditemui di kediaman di Gianyar, Bali pada Minggu (7/6/2026).

Iklan

​Meski demikian, Anggi menekankan ketika kecanggihan teknologi tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya ketajaman gagasan. Ia mengkritik kecenderungan algoritma media sosial yang mendikte masyarakat untuk mengonsumsi dan mereplikasi konten yang seragam demi mengejar popularitas visual semata. Tantangan sesungguhnya bagi Gen Z adalah bagaimana mengubah kebiasaan memproduksi konten hiburan berdurasi pendek menjadi sebuah narasi film yang memiliki kedalaman pesan, struktur visual yang matang, dan eksplorasi estetika yang berani.

​”Kamera di ponsel kalian sudah sangat canggih. Pertanyaannya sekarang, apa yang ingin kalian bicarakan melalui kamera itu? Tantangannya bukan lagi soal punya alat atau tidak, melainkan apakah kalian punya pemikiran, atau cerita otentik yang mau dibagikan kepada dunia?” tegasnya.

Iklan

​Anggi Noen menjelaskan, pembuatan film bukan sekadar tentang estetika gambar yang sinematik atau pencahayaan yang dramatis. Film adalah cerminan dari realitas sosial dan refleksi personal dari pembuatnya. Gen Z, yang dikenal sangat vokal terhadap berbagai isu kontemporer seperti kesehatan mental, krisis iklim, hingga keadilan sosial, dinilai memiliki modal kepekaan empati yang sangat kaya untuk dieksplorasi. Melalui pembuatan film pendek atau eksperimental, generasi muda ditantang untuk merekam lingkungan terdekat mereka. Isu-isu lokal yang dihadapi sehari-hari bisa diangkat menjadi narasi yang universal jika dikemas dengan perspektif yang jujur. “Para kreator muda untuk tidak takut melakukan kesalahan teknis di awal proses, karena nilai utama dari sebuah karya perdana sering kali terletak pada kejujuran emosi dan keberanian menabrak pakem konvensional,” paparnya.

Ia pun memberikan strategi awal untuk Gen Z ketika pertamakali membuat film, dengan mengangkat daerah sekitar yang mempunyai potensi untuk dikembangkan. Angkat cerita dari kegelisahan personal atau realitas sosial yang ada di sekitar lingkungan sendiri agar terasa otentik. Selanjutnya eksplorasi tanpa batas, jangan terjebak pada formula baku industri mainstream. Gunakan kemudahan digital untuk mencoba struktur naratif baru. ​Fokus pada substansi dan pastikan setiap pilihan visual, sudut kamera, dan dialog memiliki alasan kuat demi memperkokoh esensi cerita yang ingin disampaikan.

​Tantangan yang dilemparkan oleh Anggi Noen sejatinya merupakan undangan terbuka bagi regenerasi perfilman Indonesia. Industri film nasional membutuhkan darah baru dengan sudut pandang segar yang mampu merespons zaman. Ketika generasi muda berani mengambil langkah untuk memproduksi film mereka sendiri, baik fiksi, dokumenter, maupun eksperimental.

​Anggi menegaskan bahwa bioskop, festival film, hingga ruang pemutaran komunitas selalu terbuka bagi mereka yang membawa kebaruan. Dengan kreativitas yang terarah dan konsistensi karya, Gen Z memiliki peluang besar untuk menembus panggung sinema global. Kini, pilihan sepenuhnya berada di tangan generasi muda. “Mau tetap nyaman jadi penonton yang menggeser layar gawai, atau berani mengambil alih kendali kamera untuk mulai mengarahkan cerita mereka sendiri,” pungkasnya.