DENPASAR, OborDewata.com – Badan Kerja Sama Lembaga Perkreditan Desa (BKS LPD) Provinsi Bali menyatakan dukungannya terhadap program pengolahan sampah berbasis sumber, khususnya di tingkat Banjar dan Desa Adat. Langkah ini diperkuat dengan penjajakan teknologi pengolahan sampah organik mutakhir “Somya” milik PT Enviro Mas Sejahtera yang mampu mengubah sampah menjadi kompos hanya dalam waktu 8 jam.
Ketua BKS LPD Provinsi Bali, Drs. I Nyoman Cendikiawan, S.H., M.Si., mengungkapkan bahwa persoalan sampah sudah menjadi isu krusial di Bali maupun tingkat nasional. Sebagai lembaga yang berpegang pada konsep Tri Hita Karana, LPD merasa terpanggil untuk ikut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.
”Kami sangat apresiasi, terutama untuk mesin pengolahannya. Teknologi ini cukup mumpuni karena mampu mengolah sampah non-plastik menjadi kompos plus yang memiliki nilai ekonomis. Kami akan kaji lebih lanjut, terutama dari sisi pembiayaan agar bisa disinergikan dengan LPD,” ujar Cendikiawan.
Ia menambahkan, beberapa daerah seperti Desa Adat Kesiman dan Tanjung Bunga sudah menunjukkan ketertarikan untuk menjadikan teknologi ini sebagai pilot project. “Jika ini berjalan, bukan hanya lingkungan yang bersih, tapi juga mendukung ekonomi kreatif karena ini adalah karya putra Bali,” imbuhnya.
Di sisi lain, Direktur PT Enviro Mas Sejahtera, AA Ngr Panji Astika, menjelaskan bahwa 70% permasalahan sampah di Bali berasal dari sampah organik. Jika sampah organik tuntas di sumbernya, maka sisa sampah anorganik akan jauh lebih mudah untuk didaur ulang.
”Teknologi ‘Somya’ yang kami bawa bisa mengolah sampah organik menjadi kompos stabil hanya dalam waktu 8 jam. Bandingkan dengan pengomposan biasa yang butuh 3 hingga 6 bulan,” jelas Panji Astika.
Mesin ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya tanpa bau dan lalat. Pasalnya, proses pengolahan yang bersih sehingga nyaman ditempatkan di lingkungan pemukiman. Penyusutan Volume sampah yang masuk akan menyusut hingga 80-95% menjadi granul kompos siap pakai. Otomatisasi: Dilengkapi dengan layar sentuh (touchscreen) dan berbasis IoT sehingga bisa dipantau melalui smartphone. Kapasitas Beragam: Tersedia mulai dari kapasitas 25 kg hingga skala industri ratusan ton per hari.
Meski teknologi sudah siap, Panji Astika menekankan pentingnya goodwill dan political will dari pemerintah serta kesadaran masyarakat. Ia menyoroti pentingnya penegakan Pergub Bali tentang pengolahan sampah berbasis sumber.
”Teknologi sudah ada, diproduksi di Bali, dan sudah diuji di berbagai hotel serta restoran dengan hasil kandungan hara yang sangat tinggi. Sekarang tinggal bagaimana infrastruktur disiapkan dan aturan ditegakkan secara holistik,” tegasnya.
Kerja sama antara BKS LPD dan penyedia teknologi ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi desa adat di seluruh Bali untuk mandiri dalam mengelola sampah, sekaligus menciptakan unit bisnis baru yang menguntungkan bagi desa. tra/dx



