DENPASAR, OborDewata.com – Eksistensi Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Bali dalam mengawal bisnis di Bali dan turut andil dalam memajukan pariwisata di Bali serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi, membuat perusahaan asing yang berada di Korea bergerak pada bidang Star Up tertarik untuk melakukan sinergi dengan Kadin Bali dalam meningkatkan perekonomian sekaligus mengembangkan digital di Bali.
Kedatangan 10 perusahaan Star Up Korea ke Kadin Bali langsung diterima Ketua Umum Bali, I Made Ariandi yang diterima bersama Wakil Ketua Umum Bidang Lingkungan Hidup Kadin Bali, I Komang Gede Subudi dan Wakil Ketua Kadin Bali bidang Pariwisata Agus Maha Usadha pada Kamis (29/8/2024). Kerja sama dengan perusahaan startup ini, rencananya tidak saja menyasar sektor pariwisata, namun juga bidang lainnya yang dimudahkan dengan penerapan berbasis teknologi.
“Jadi pasar Korea yang lebih serius akan kita garap dari awal itu, untuk mengurangi persaingan, mengantisipasi persaingan yang tidak sehat. Kalau sudah ada ini kan ada standarisasi, jangan sampai ada hari ini teman-teman pemainnya semua menekan ke bawah bukan harga naik malah menurunkan yang akan merugikan Bali,” ungkap Ariandi.
Pihaknya berharap agar destinasi wisata di Bali jangan sampai seperti sekarang, bahkan lima tahun yang lalu warga Nusa Penida belum ada dermaga yang memadai. Namun sekarang keluhannya infrastruktur dan akses di Nusa Penida sudah bisa diatasi. “Kan itu yang menjadi pemikiran, kalau sudah begini kan sudah bagus tamunya tidak tumpah ruah, tapi tidak ada uang, tamunya ada, nyaman uangnya ada, penghasilannya buat masyarakat,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, mewakili 10 perusahaan startup Korea tersebut, General Manager VEStellaLab Inc mengharapkan kerjasama Startup Korea dengan KADIN Bali bisa segera bsa diwujudkan dalam bidang perhotelan maupun hospitality. Pertemuan dengan Kadin ini tujuannya membawa startup Korea khusus di bidang teknologi untuk bisa mengeksplor Bali lebih lanjut dan mengaplikasikan solusi-solusi yang dipunyai oleh setiap startup untuk memajukan Bali ke depannya ada dari sisi teknologi, ada dari sisi transportasi, ada dari sisi lingkungan dari beragam startup masuk ke Bali.
“Kita coba untuk mengembangkan Bali dengan mengadaptasi teknologi yang sudah dikembangkan di Korea yang pada dasarnya Bali sendiri itu kan sebagai pentolan (tolak ukur. red) dari Indonesia dimana Bali itu sebagai pintu masuk untuk masuk di Indonesia jadi melalui KADIN kita berharap kita bisa mengekspor Bali lebih dalam, lebih luas untuk bisa mengeksplor Bali berdasarkan pengalaman yang sudah diterapkan di teknologi Korea,” ujarnya. Dari stratup sendiri ada sekitar sepuluh perusahaan startup dan itu semua dari Korea dan produk-produk dari startup ini sudah terbukti dan terpercaya di Korea sehingga diharapkan bisa masuk ke Indonesia dan menerapkan teknologi tersebut untuk bisa dikembangkan di Bali.
“Sebagian dari startup masih tahap awal untuk mengexplore Indonesia dan Bali jadi titik startnya atau titik awal untuk mengeksplor Indonesia lebih lanjut,” katanya. Dalam waktu dekat sekiranya sudah ada sudah data yang lengkap mungkin di bidang perhotelan atau di hospitality itu akan lebih lebih cepat untuk mengaplikasikan teknologi dari startup dari Korea. “Mungkin contohnya di bidang hospitality kita mulai dari check in sampai check out biasanya kan kalau sekarang masih manual atau mungkin pesan lewat telepon tapi teknologi yang sudah dikembangkan dari salah satu startup yang join di sini, dengan satu aplikasi mereka bisa dari check in terus sampai check out itu dalam satu aplikasi itu bisa,” bebernya.
Atau contoh lain mungkin dari segi transportasi melalui smart parking juga bisa bisa mengelola parkiran di Bali terutama di daerah-daerah yang selalu padat. “Jadi ini bisa membantu building manager bisa membantu pemilik gedung untuk mengelola parkir secara cepat dan digital,” pungkasnya.
Oleh karena itulah, kerja sama dengan perusahaan startup dari Korea ini menjadi potensi yang bisa digarap oleh Kadin Bali. “Kami menunggu bolanya, pemainnya kan sudah ada di semua bidang, transportasi pariwisata, ini barangnya sudah ada, ini kan tinggal di manage saja dengan pola kerja ini sistem dalam bentuk kerja sama,” jelasnya. Di sisi lain, perusahaan startup Korea tersebut, juga sudah terbukti di negaranya, kini akan masuk Indonesia melalui Kadin Bali untuk menggarap pasar Pulau Dewata. Bali dipilih pertama di Indonesia karena sebagai pintu gerbang tanah air serta wisatawan dunia masuk ke Indonesia. Untuk itu, Kadin Bali berupaya optimal menjalakan fungsinya bekerja dan mengabdi kepada masyarakat.
Program yang dibentuk oleh Startup Junkies dan Korea Tourism Organisation (KTO) and Korea International Trade Association (KITA) untuk mengumpulkan startup terbaik di Korea di bidang technology terbaru. Ariandi menyambut baik rencana kerjasama tersebut dalam mewujudkan pariwisata berkualitas dengan fasilitas wisatawan yang memadai, pendapatan pajak negara yang benar, serta memberikan dampak kesejahteraan kepada masyarakat luas. Kehadiran startup teknologi Korea, diharapkan mampu menekan persaingan pasar yang cendrung merugikan para pengusaha lokal Bali dan Indonesia. Dengan kehadiran teknologi Korea mampu menumbuhkan persaingan usaha yang sehat. tra/aya/ama/kel



