Daerah

Parisudha Jagat di Tukad Bangkung, Ikhtiar Spiritual Hentikan Rentetan Tragedi

878 Views

BADUNG, OborDewata.com – Keprihatinan atas berulangnya peristiwa bunuh diri di kawasan Jembatan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamatan Petang, mendorong digelarnya Upacara Yadnya Parisudha Jagat sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memulihkan keseimbangan dan kesucian kawasan tersebut.

Upacara yang berlangsung khidmat pada Kamis (18/12/2025) itu diikuti Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta, Ketua TP PKK Provinsi Bali yang juga Duta PSBS PADAS Putri Suastini Koster, serta Ketua BKOW Provinsi Bali Ny. Seniasih Giri Prasta. Persembahyangan bersama dilakukan tepat di area Jembatan Tukad Bangkung yang selama ini dikenal sebagai jembatan tertinggi di Bali.

Pelaksanaan upacara dimaknai sebagai upaya penyucian bhuana agung dan bhuana alit, sekaligus penetralan unsur niskala yang diyakini memengaruhi keharmonisan kawasan tersebut. Secara spiritual dan kultural, wilayah Tukad Bangkung dipercaya memiliki nilai sakral tertentu yang perlu dijaga keseimbangannya agar tidak berdampak pada kehidupan manusia.

Dalam tradisi Bali, Parisudha Jagat merupakan bagian dari konsep Sad Kerthi, yakni enam upaya penyucian alam semesta. Upacara ini bertujuan memohon kerahayuan jagat agar kehidupan kembali berjalan harmonis, selaras, dan terbebas dari energi negatif.

Rangkaian upacara diawali dengan doa bersama, dilanjutkan prosesi simbolik pelepasan dua ekor kebo putih lanang dan wadon yang kemudian dihaturkan sebagai kebo duwe di Desa Plaga. Selanjutnya, dilakukan pelepasan burung dan lampion masing-masing sebanyak 33 buah di pintu masuk jembatan, sebagai simbol harapan, keseimbangan, dan penyucian.

Upacara dipuput oleh Jro Mangku Gede Made Pawitra dari Desa Bulian, didampingi para mangku dan prajuru adat dari sejumlah desa, di antaranya Pelaga, Sidan, Tambakan, Selulung, dan Kubutambahan. Sejumlah pejabat turut hadir, termasuk Wakil Bupati Bangli Wayan Diar dan Anggota DPRD Provinsi Bali Made Sumiati.

Sebagai bentuk dukungan, Wakil Gubernur Bali menyerahkan dana punia sebesar Rp25 juta, sementara Putri Suastini Koster menyumbangkan tiga ekor kerbau untuk mendukung kelancaran pelaksanaan upacara.

Pelaksanaan Parisudha Jagat ini juga melibatkan berbagai elemen masyarakat dan organisasi, di antaranya Yayasan BOA, Tim PSBS PADAS, Paiketan Spiritual, Yayasan Bali Mula, serta Paiketan Kerama Bali. Gotong royong lintas elemen tersebut mencerminkan kepedulian bersama terhadap keselamatan jiwa dan kelestarian nilai-nilai kearifan lokal.

Melalui upacara ini, masyarakat berharap Jembatan Tukad Bangkung kembali dimaknai sebagai simbol penghubung kehidupan, bukan tragedi. Pendekatan spiritual dan kultural ini diharapkan melengkapi upaya sosial dan kemanusiaan, sehingga kawasan tersebut kembali aman, suci, dan memberi rasa damai bagi siapa pun yang melintasinya. tim/dx