BADUNG, OborDewata.com – Tutup usianya putra bungsu Pahlawan I Gusti Ngurah Rai yakni, I Gusti Ngurah Alit Yudha di usia ke 76 tahun akibat sakit jantung. Sehingga untuk menghormati jasa almarhum, Keluarga Besar Puri Carangsari beralamat di Banjar Pemijian, Carangsari, Petang, Badung menggelar prosesi Pelebon pada Jumat (10/2/2023), dengan menggunakan Bade Tumpang 9 dengan tinggi kurang lebih 19 meter.
Dijelaskan Putri Ketiga Almarhum Alit Yudha, IGA Agung Trimafo Yudha dengan sapaan akrabnya Gek In menjelaskan, diambilnya Bade Tumpang 9 juga mengikuti prosesi mendiang kakak almarhum dengan menggunakan bangkit 5, Bade Tumpang 9, hal ini dilakukan agar almarhum tidak melangkahi mendiang kakak tercinta, dan Almarhum Gung Danil. Dalam rangkaian upacara Gek In mengatakan, pada Anggara, Wage, Pahang 7 Februari melaksanakan acara Ngening pada Pukul 11 Wita, dipuput oleh Ratu Peranda Griya Kediri Sangeh dan Welaka, dilanjutkan dengan Ngeraka, Melaspas Kajang, dan Pengaskaran. “Tadi acara kita ke Pura Dalam, untuk upacara Ngening. lalu kita juga melaksanakan, salah satu tradisi Puri Agung Carangsari Leladan atau meped yang melibatkan krama istri dari beberapa banjar yang ada di Desa Carangsari yang kali ini melibatkan hampir 200 orang, dimana para krama Istri dari Desa Carang Sari ada 7 banjar, Samuan dengan 3 banjar, dan Anggungan, jadi krama istri mendatangi Puri untuk melakukan meprani atau Leladan menghaturkan gebogan,” ucapnya.

Gek In melanjutkan, pada puncak acara Pelebon yang digelar Sukra, Pahing, Pahang, 10 Februari 2023 dimulai dari Pukul 4 Wita sebelum matahari terbit dengan melaksanakan Mapralina, Ngutang Sok ceg – ceg, Mabumi Sudha atau Nyukat Karang yang dipuput oleh Ratu Peranda Griya Kediri Sangeh, dengan Penyanggra para Semeton Puri, dilanjukan pada Pukul 9 Wita Ratu Peranda Griya Gede Manuaba Carangsari melakukan prosesi Melaspas Bade dan Naga, dan di Pukul 11 Wita Puri Carangsari melakukan Mapegatan yang dipuput oleh Welaka, dilanjutkan pada Pukul 12.05 Wita melaksanakan Memargi Setra dengan diiringi 2 baleganjur, angklung, keklentangan, dan Baris Ketog Jago. Lalu tepat di Pukul 15.00 Wita melaksanakan Ngemargian Pengabenan yang dipuput oleh Ratu Peranda Griya Gede Babakan dan Ratu Peranda Griya Kediri Sangeh, dan pada Pukul 16.00 melaksanakan Nganyut ke Segara, dipuput oleh Ratu Peranda Griya Kediri Sangeh dengan diiringi angklung yang diikuti oleh Semeton Puri dan Paman Due.
“Nanti Bade dan Naga Kaang yang dibuat dari Griya Kesiman tersebut diarak oleh, warga seDesa Carangsari dan desa-desa se Kecamatan Petang yang memiliki hubungan Sejarah dengan Puri Agung Carangsari, bahkan juga antar lintas Kabupaten seperti seperti Desa Catur bangli, yang totalnya hampir 1500 warga yang akan membawa Bade dan Naga Kaang dengan berjarak 800 meter menuju setra dengan 3 tahap pergantian, dan kita juga melakukan prosesi pengalihan jalan dari pagi,” ungkapnya

Diakui Gek In, prosesi Pelebon tersebut mengambil tingkat upacara Utama yaitu Sawa Prateka Utama, bahkan dalam masa berkabung banyak para tokoh politik dan masyarakat yang berkunjung untuk mengucapkan bela sengkawa seperti Mantan Bupati Badung, AA Gde Agung, Demer, Gus Adi, Cok Ibah, Yg sudah sempet melayat tokoh2 seperti Cok Rat, Ketua DPRD Badung Putu Parwata dan wakil ketua serta anggota DPRD Badung, DANREM Udayana, Wisnu bawa tenaya mantan Pangdam Udayana, Gus Rai darma Wijaya, De gajah, Sugawa Kory dan GOLKAR seBali dan masih banyak lagi yang hadir. “yang mendatangi kami untuk mengucapkan bela sungkawa banyak sekali seperti temen-temen asosiasi pariwisata, Semeton Arya Sentong serta organisasi pemuda di Bali,” paparnya.
Sementara Tjokorda Raka Kerthyasa alias Cok Ibah usai melayat mengatakan, sosok Almarhum Alit Yudha dimasa hidupnya sangat aktif dalam mengisi kemerdekaan di Bali, bahkan dirinya yang sama-sama berpartai di Golkar komitmennya dalam mengisi kemerdekaan dalam berpolitik beliau sangat berkomitmen akan visi misinya, dan terbukti jasa beliau banyak dikenang oleh masyarakat. “Beliau ini tidak banyak bicara, tapi actionnya banyak sekali, sosialnya tinggi, setia kawannya bagus sekali,” paparnya.
Secara pribadi Cok Ibah menceritakan, beliau sering bercerita baik itu spritual, pengembangan pariwisata dan beliau sangat senang sekali bercerita mistis, dan pastinya Almarhum Alit Yudha sangat humble. “karakter beliau sangat hangat sekali, dan kesetiaanya juga tidak perlu dipertanyakan lagi, yang jelas tiyang banyak belajar dari beliau, apalagi sekarang banyak media medsos beliau sangat bijak sekali memilahnya sehingga tidak ada merasa yang saling dirugikan, dan para anak muda harus bisa mencontoh Alit Yudha dalam mengimplemantasikan nilai-nilai kesatuan bangsa mempertahankan NKRI,” pungkasnya. sathya



