Sosial Budaya

Krama Banjar Pesanggaran Bangga Bangun Pura Senilai Rp5 Milyar Hasil Swadaya, Tanpa Hibah

992 Views

DENPASAR, OborDewata.com – Krama Banjar Pesanggaran, Desa Adat Pedungan, Denpasar Selatan sangat bangga atas kekompakan para kramanya yang sukses membangun Pura Tedung sari dan Pura Bhagawan senilai Rp5,4 Milyar lebih dengan hasil swadaya krama banjar dan para partisipasi pengusaha-pengusaha, tanpa ada campur tangan hibah ataupun bansos. Semangat dalam membangun pura tersebut muncul, ketika Krama Banjar Pesanggaran mendapat janji hibah sebesar Rp3 Milyar lebih, hanya saja hibah yang dijanjikan hanya tinggal janji-janji manis saja yang realisasinya tak kunjung datang.

 

Kelian Dinas Putu Sucipta mengungkapkan, suksesnya krama Banjar Pesanggaran dalam membangun dua pura sekaligus, dengan pendanaan yang sangat besar mencapai Rp5 Milyar lebih, merupakan berkat kekompakan para krama banjar. Dan hal ini, sekaligus ingin menunjukan kepada Masyarakat Bali dalam membangun pura sebagai tempat ibadah tanpa ada dana hibah pun bisa dilakukan dengan cara gotong royong. Bahkan dirinya sangat terharu, dengan sikap para krama banjar yang rela mensisihkan dananya untuk membangun pura, dan ini menjadi kebanggaan dirinya tanpa diminta krama banjar dengan sukarela memberikan sumbangan, bahkan sampai ada yang berpartisipasi memberikan sumbangan 500 rupiah dan itu dicatat dalam pembukaan pembangunan pura.

 

“Kami sangat bangga dan saya ucapakan terimakasih kepada para Krama Banjar dan pengusaha-pengusaha yang dengan Ikhlas memberikan sumbangan untuk pembangunan pura,” ujarnya pada Jumat (15/8/2025).

 

Ditambahkan Putu Sucipta, proses berdirinya pura pun bisa dikatakan cukup singkat hanya memakan waktu 1 tahun lamanya pura berdiri dengan megah, tanpa ada campur tangan dana hibah. Sejatinya, ketika dulu pihaknya tidak dijanjikan hibah sudah dipastikan pura ini sudah terbangun.

 

“Dulu awalnya kita dijanjikan mendapatkan hibah Rp3,7 Milyar, berjalan waktu berubah menjadi Rp1 Milyar dan akhirnya dana hibah tersebut tak kunjung cair, jadi kami hanya dapat janji janji manis saja. Karena kami hanya dapat janji-janji saja, akhirnya masyarakat kami mempunyai inisiatif bergotong royong untuk membangun pura, dan akhirnya kami sukses dalam 1 tahun dua pura sekaligus terselesaikan, dan hal tersebut menjadi kebanggaan Krama Banjar Pesanggaran, tanpa hibah kami bisa membangun pura seluas 5 are,” ungkapnya.

 

Hal yang sama dikatakan Kelian Adat Banjar Pesanggaran, I Ketut Agus Pujawan mengatakan, dengan sudah berdirinya kedua pura pihaknnya bersama panitia dan berserta krama Banjar Pesanggaran, Desa Adat Pedungan, Denpasar Selatan, akan menggelar upacara Melaspas, Mecaru, dan Ngeratep Pelawatan di Pura Tedung Sari pada Sabtu, 16 Agustus 2025. Kegiatan ini menjadi puncak peresmian pura yang telah rampung dibangun sepenuhnya dengan dana swadaya warga dan punia dari sejumlah perusahaan di lingkungan Banjar Pesanggaran.

Kelian Adat I Ketut Agus Pujawan menjelaskan bahwa Melaspas adalah salah satu rangkaian yadnya dalam tradisi Hindu di Bali, bertujuan untuk menyucikan serta mempersilakan Dewa-Dewi berstana di pelinggih setelah pembangunan selesai. “Melalui upacara ini, kami memohon restu dan keselamatan, sekaligus menjadikan pura sebagai pusat spiritual warga,” ujarnya.

Upacara akan dipuput oleh Ida Sulinggih dari Gria Batulumbang, Sibang. Rangkaian kegiatan meliputi Ngeratep Pelawatan di lingkungan pura. Prosesi Mendem Dasar, Mendem Pedagingan, Melaspas, dan Mecaru. Mejaya-jaya, Masopati, dan Ngerehang pada 31 Agustus 2025. Pentas Calonarang pada 15 September 2025.

Menurut panitia, total biaya pembangunan pura mencapai Rp5 miliar, sedangkan Ngodakan Ida Bhatara memerlukan dana sekitar Rp800 juta. Dana tersebut sepenuhnya berasal dari partisipasi warga dan donatur, tanpa hibah pemerintah. tra/dx