GIANYAR, OborDewata.com – Desa Celuk di Kabupaten Gianyar, Bali, sejak lama dikenal sebagai pusat kerajinan perak yang mendunia. Namun, kejayaan itu kini terancam punah. Para pengrajin perak tradisional kian berkurang, sementara minat generasi muda untuk meneruskan warisan leluhur semakin memudar.
Tokoh Pengerajin Perak Celuk, I Ketut Sumadi menjelaskan, sejatinya dulu hampir seluruh warga Desa Celuk menekuni profesi sebagai perajin perak. Namun kini, jumlahnya merosot tajam. “Kalau dulu hampir 100 persen masyarakat di sini membuat perak. Sekarang tinggal sekitar 35 persen saja, itu pun sebagian besar sudah lanjut usia,” ungkapnya pada Kamis (19/9/2025).
Sumadi menambahkan, penyebab utama menurunnya jumlah perajin adalah kurangnya regenerasi. Anak-anak muda di Celuk lebih memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. “Banyak yang ingin kerja kantoran atau sektor pariwisata. Sementara membuat perak butuh ketekunan, waktu panjang, dan hasilnya juga tidak langsung besar,” ujarnya.

Maka dari itu Sumadi yang juga pemilik Bara Silver membuka pelatihan, bahkan untuk wisatawan mancanegara, maupun lokal, hal tersebut dilakukan untuk bagian dari menjaga warisan budaya dibidang seni perajin perak, terutama mempertahankan motif perak celuk yang sudah mendunia. Pasalnya, motif ciri khas perak Celuk adalah motif Jawan Bun (bola-bola perak) warisan turun-temurun yang terinspirasi dari alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, tidak hanya itu saja motif lainnya seperti Motif Liman Paya (sulur buah pare), Motif Buah Gonda, dan Motif Bun Jejawanan (sulur tunas pakis aji), yang kemudian dikembangkan menjadi berbagai desain unik oleh para pengrajinnya.
“Siapa pun bisa belajar, termasuk orang lokal. Ada paket belajar dasar membuat perak, mulai dari tiga hingga lima jam, dan silahkan kunjungi kami di Banjar Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar no 27. Untuk belajar teknik dasar bisa ditempuh dalam dua sampai tiga hari, tergantung motif yang dipelajari,” jelasnya.
Namun, upaya mandiri itu dirasa belum cukup. Para pengrajin berharap adanya peran nyata dari pemerintah, baik dalam bentuk subsidi, penyediaan fasilitas, maupun dukungan promosi. “Kalau ingin seni perak Celuk tetap hidup, harus ada perhatian. Bukan hanya dari pemerintah pusat, tapi juga daerah, bahkan perbankan untuk membantu permodalan,” tegas Sumadi.
Sumadi mengeluhkan, faktor lain yang memperberat adalah harga bahan baku perak yang kian mahal, sehingga tidak semua pengrajin mampu membeli peralatan dan bahan. “Satu meja kerja saja bisa belasan juta rupiah. Belum lagi alat-alat pendukung. Kalau tidak ada bantuan, sulit bagi generasi baru untuk memulai,” keluhnya.
Jika tren ini terus berlanjut, para ahli khawatir seni perak Celuk hanya akan tinggal cerita. Padahal, di Tahun 2019 pemerintah pusat sudah mencatat kerajinan perak sebagai bagian dari warisan budaya tak benda. “Kalau tidak ada langkah serius, jangan heran kalau suatu saat kerajinan ini benar-benar hilang,” pungkas Sumadi. tra/dx



