Ekonomi Bisnis

PT Sentrik Persada Nusantara Gagas Aplikasi Transportasi Berbasis Desa Adat di Tanjung Benoa

877 Views

DENPASAR, OborDewata.com – PT Sentrik Persada Nusantara menggagas Program Transportasi Hijau Terintegrasi berbasis Desa Adat (TRIHITA), pengembangan aplikasi transportasi berbasis desa adat sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi lokal.

Tanjung Benoa dipilih sebagai pilot project Program TRIHITA karena didukung kelembagaan Desa Adat yang kuat, partisipasi aktif masyarakat, serta karakter kawasan pesisir yang strategis dengan nilai ekonomi dan pariwisata tinggi. Dengan tingkat aksesibilitas dan visibilitas yang baik, kawasan ini dinilai ideal untuk uji coba kebijakan yang diharapkan dapat direplikasi di wilayah pesisir lain.

Founder PT Sentrik Persada Nusantara yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Trihita Bali Dwipa, I Made Sudiana, SH., M.Si, menjelaskan bahwa program TRIHITA ini selaras dan mendukung langsung Visi Pemerintah Provinsi Bali yaitu Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui pengembangan sistem transportasi berkelanjutan yang berlandaskan kearifan lokal dan berorientasi pada kesejahteraan Krama Bali.

“TRIHITA mendorong pelestarian alam Bali melalui transportasi rendah emisi, memperkuat peran Desa Adat dan koperasi sebagai subjek pembangunan ekonomi kerakyatan, serta mengintegrasikan nilai Tri Hita Karana dalam sistem transportasi modern yang tertib, aman, dan berkeadilan” lanjut beliau.

“Selama ini potensi ekonomi desa adat sangat besar, tetapi banyak yang justru mengalir keluar. Karena itu kami berupaya membangun sistem aplikasi transportasi yang bisa diterapkan secara terpisah di masing-masing desa adat, sesuai karakter dan wilayahnya,” ujar Sudiana, pada Kamis (29/1/2026)

Menurutnya, aplikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai layanan transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa adat yang terintegrasi dengan sektor pariwisata, penginapan, UMKM, hingga layanan lokal lainnya. Dengan sistem digital ini, desa adat tetap memiliki kendali terhadap wilayah dan potensi ekonominya.

Sudiana menambahkan, tantangan utama saat ini adalah derasnya arus digitalisasi yang memaksa seluruh sektor ekonomi untuk beradaptasi. Jika desa adat tidak ikut masuk ke dalam sistem tersebut, maka lambat laun akan tertinggal dan kehilangan peran strategisnya.

“Kita tidak bisa hanya kuat secara adat dan spiritual, tetapi juga harus kuat secara ekonomi. Kalau ekonomi lemah, maka daya tahan desa adat juga akan rapuh,” tegasnya.

Sementara itu, General Manager PT Sentrik Persada Nusantara, Pande Yuliasanjaya menjelaskan bahwa aplikasi yang dikembangkan memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai aplikasi konsumen dan aplikasi mitra atau pengemudi. Secara teknis, konsepnya mirip dengan aplikasi transportasi daring yang sudah ada, namun dengan pendekatan lokal dan berbasis wilayah desa adat.

“Aplikasi ini dirancang agar sebagian besar nilai ekonomi tetap berada di desa adat. Driver, pemilik kendaraan, dan properti lokal menjadi prioritas utama, sementara porsi penyedia aplikasi justru paling kecil,” jelasnya.

Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari Jro Bandesa Tanjung Benoa, I Made Wijaya. Ia menyatakan bahwa desa adat Tanjung Benoa pada prinsipnya siap mendukung dan bekerja sama jika program ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Transportasi di kawasan Tanjung Benoa sudah berjalan sejak lama dan menjadi kebutuhan utama kawasan wisata. Jika aplikasi ini mampu menyatukan potensi yang sudah ada dan memberikan kontribusi lebih besar bagi desa adat, tentu kami sangat mendukung,” ujarnya.

Menurutnya, sinergi antara desa adat dan sistem transportasi berbasis aplikasi akan menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara pariwisata, masyarakat lokal, dan adat istiadat setempat. dx/tra