Ekonomi Bisnis

Inflasi Desember 2022 Lebih Terkendali, 2023 Tekanan Infkasi Perlu Diwaspadai

167 Views

DENPASAR, OborDewata.com – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provins Bali, Trisno Nugroho menyampaikan, berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali pada Desember 2022, Provinsi Bali mengalami inflasi sebesar
0,48% (mtm) atau 6,20% (yoy). Secara bulanan, inflasi Desember 2022 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (0,28%, mtm), namun lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi Desember selama 5 tahun
terakhir (0,80%, mtm).

“Terkendalinya inflasi Desember 2022 tidak terlepas dari upaya Tim Pengendalian
Inflasi Daerah (TPID) Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menjaga kecukupan pasokan dan stabilitas harga di Bali,” ujarnya pada Selasa (3/1/2023)

Diakuinya secara disagregasi, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 2,10% (mtm), meningkat dibandingkan November sebesar 0,26% (mtm). Inflasi volatile food terutama disebabkan oleh kenaikan
harga beras, cabai rawit, tomat, dan telur ayam ras. Kenaikan harga beras sesuai dengan pola musiman seiring dengan berakhirnya musim panen, kenaikan harga cabai dan tomat disebabkan oleh menurunnya produktivitas akibat tingginya curah hujan, dan kenaikan harga telur ayam ras terjadi akibat peningkatan permintaan. Kelompok core inflation mengalami inflasi 0,18% (mtm) melambat dibandingkan bulan
November sebesar 0,42% (mtm).

“Tekanan inflasi pada kelompok core inflation terutama bersumber dari kenaikan harga emas seiring kenaikan harga emas dunia, kenaikan harga canang sari seiring dengan
kenaikan permintaan untuk upacara keagamaan, dan kenaikan harga nasi beserta lauk akibat kenaikan harga beras dan telur ayam,” ujar Trisno seraya menambahkan kelompok administered prices (AP) mengalami inflasi sebesar 0,17% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,22% (mtm). Inflasi pada administered prices terutama disebabkan oleh kenaikan tarif angkutan udara pada periode high season
libur sekolah akhir tahun dan perayaan hari libur Natal dan Tahun Baru, serta kenaikan harga rokok putih yang masih dipengaruhi oleh kebijakan kenaikan cukai rokok.


Diakui Trisno, pada Januari 2023 sesuai dengan pola historisnya, tekanan inflasi di Provinsi Bali perlu diwaspadai seiring dengan risiko rendahnya pasokan komoditas pangan akibat tingginya curah hujan dan gelombang
laut yang masih tinggi. Di sisi lain kedatangan hari raya Galungan dan Kuningan pada Januari 2023 juga berpotensi menyebabkan kenaikan permintaan untuk komoditas canang sari, daging babi, daging ayam,
dan buah-buahan. Kemudian peningkatan cukai rokok sebesar 10% untuk tahun 2023 berpotensi ditransmisikan pada harga rokok.


“Maka dari itu TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota telah melakukan rapat koordinasi persiapan pengendalian
pasokan dan harga menjelang HKBN Galungan dan Kuningan, yaitu melalui kegiatan operasi pasar yang lebih sering dengan skala yang lebih luas, kemudian pemberian subsidi ongkos angkut komoditas pangan, peningkatan Kerjasama Antar Daerah (KAD) untuk memenuhi kebutuhan pasokan pangan, dan pemanfaatan anggaran dari Biaya Tak Terduga (BTT) APBD untuk program pengendalian inflasi di Provinsi
Bali. Untuk memperkuat pelaksanaan operasi pasar, seluruh perusda pangan se-Bali melakukan kerja sama untuk saling melakukan jual beli komoditas pangan sesuai keunggulan tiap daerah,” pungkasnya. sathya