Ekonomi Bisnis

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov Bali Gerakan Tanam Padi Tetua Bali Cicih Gonrong Sudaji, di Gianyar

880 Views

GIANYAR, OborDewata.com – Upaya pelestarian varietas padi lokal Bali terus dilakukan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bersama Bali Sri Organik yang mengadakan Gerakan Tanam Padi dengan jenis Tetua Bali Cicih Gonrong Sudaji Buleleng pada Selasa (3/2/2026) di Subak Uma Kumbuh, Desa Mas, Ubud, Kabupaten Gianyar. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan plasma nutfah padi lokal asli Bali di tengah tantangan pertanian modern.

Gerakan tanam padi ini dilakukan sehubungan dengan pemurnian dan persilangan benih padi tetua Bali Cicih Gonrong Sudaji, merupakan varietas unggul lokal dengan usia panen rata-rata 120 hari dengan hasil persilangan ini menjadi 105 hari. Varietas ini dikenal memiliki nilai adaptasi tinggi terhadap lingkungan setempat, tahan hama/penyakit, dari morfologi tanaman yang awalnya berbulu (berduri halus) sekarang sudah hilang dan tidak tajam dan daya tahan tidak mudah rebah, serta untuk rasa hasilnya sangat pulen. Varietas ini juga dinilai sejalan dengan pengembangan pertanian organik dan sistem subak yang menjadi warisan budaya Bali.

Kegiatan penanaman dimulai pukul 07.00 WITA dan melibatkan petani subak, pegiat pertanian organik, serta sejumlah pemangku kepentingan yang peduli terhadap pelestarian padi lokal. Selain penanaman bersama, kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengetahuan terkait benih lokal, pola tanam, dan praktik pertanian berkelanjutan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menyampaikan bahwa pelestarian padi tetua Bali memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan daerah. Menurutnya, padi lokal bukan hanya bagian dari sejarah pertanian Bali, tetapi juga solusi menghadapi tantangan perubahan iklim dan ketergantungan benih dari luar daerah.

“Varietas padi lokal Bali seperti Cicih Gonrong Sudaji memiliki ketahanan dan kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi agroekosistem Bali. Ini merupakan hasil persilangan yang nanti akan diberi nama varietas Sri Sedana, dan untuk saat ini kita masih dalam proses pengajuan nama varietas ke Kementerian Pertanian agar menjadi varietas unggul nasional, Ini sejalan dengan kebijakan penguatan pertanian organik dan ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal,” ujarnya.

Sunada menegaskan, pemerintah provinsi mendorong kolaborasi antara petani, komunitas, dan lembaga terkait dalam menjaga dan mengembangkan plasma nutfah lokal. Dengan demikian, keberlanjutan pertanian Bali dapat terjaga tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Subak Uma Kumbuh dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai masih konsisten menerapkan nilai-nilai subak, seperti gotong royong dan keharmonisan dengan alam. Melalui gerakan tanam padi ini, Bali Sri Organik berharap kesadaran akan pentingnya menanam dan menggunakan benih lokal semakin tumbuh di kalangan petani dan masyarakat luas. mas/sathya