Ekonomi BisnisLifeStyle

Komitmen Bali Miiki Transport Daring Berbudaya, Aplikasi TriHita Buka Kran Baru Sektor Ojol di Desa Adat Bali

Ojol TriHita Hadir di Bali
3524 Views

BADUNG, OborDewata.com – Eksapansi Aplikasi Lokal TriHita dalam menjadikan Bali memiliki transport daring berbudaya dan berbasis desa adat, TriHita terus berkarya membuka sektor baru platform ini secara khusus membuka kesempatan besar pada sektor Ojek Online (Ojol) roda dua guna memenuhi lonjakan permintaan wisatawan global sekaligus menggerakkan ekonomi akar rumput di tingkat desa adat.

​Hal tersebut diungkapkan oleh Owner PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, pasca peresmian (launching), kesiapan sistem aplikasi besutannya tersebut telah matang tanpa kendala teknis. Kendati demikian, TriHita memberlakukan kebijakan strategis yang membedakan regulasi operasional secara kontras antara ojol roda dua dengan armada roda empat (mobil).

Iklan

​Berbeda dengan pengemudi roda empat yang diproteksi ketat wajib berstatus Krama Adat Bali atas rekomendasi Bandesa, sektor ojol roda dua justru dibuka dengan aturan yang jauh lebih fleksibel. Langkah ini diambil secara sengaja sebagai jalan keluar rasional atas keterbatasan tenaga kerja lokal di sektor ojek roda dua.

​”Jika kita melihat peta lapangan, potensi krama lokal pariwisata yang ingin ikut menjadi ojol itu relatif kecil. Di sisi lain, kebutuhan mobilitas wisatawan di wilayah desa wisata sangat tinggi. Oleh sebab itu, kami menerapkan persyaratannya lebih longgar dan tidak menutup ruang bagi warga luar daerah untuk masuk,” papar I Made Sudiana saat memberikan keterangan pers pada Selasa (26/5/2026).

Iklan

​Sudiana mengakui, antusiasme pasar terhadap skema ini terbukti sangat tinggi. Pada fase awal pendaftaran, tercatat hampir 400 rider ojol roda dua telah masuk ke dalam sistem data Trihta, melampaui jumlah pendaftar pengemudi roda empat yang berada di angka 300-an unit.

Kendati melonggarkan pendaftaran ojol dari luar daerah, TriHita menjamin operasional di lapangan tidak akan memicu kesemrawutan ataupun perang tarif. Seluruh rantai manajemen mitra ojol diintegrasikan langsung dengan entitas usaha lokal, baik berupa Koperasi Desa, Desa Wisata, maupun Badan Usaha Padruwen Desa Adat (BUPDA). Dicontohkannya langkah agresif yang diambil oleh para pelaku transportasi di kawasan Canggu.

“Teman-teman di Canggu sudah bergerak cepat membentuk Koperasi Transportasi Desa. Mereka bahkan telah melakukan kontak langsung dengan Dinas Koperasi Badung agar segera turun memberikan penyuluhan kelembagaan,” imbuhnya.

​Melalui sistem ini, lembaga usaha desa memiliki otoritas penuh untuk menghitung kuota riil yang dibutuhkan kawasan mereka. Jika sebuah desa memproyeksikan kebutuhan 200 armada ojol namun hanya memiliki 50 orang peminat dari warga lokal, maka kekurangan 150 armada tersebut akan disuplai secara tertib lewat sistem Trihta melalui pendaftar eksternal yang dibekali kartu anggota resmi desa.

​”Trihta hadir untuk membantu pemerintah, desa adat, dan desa dinas melakukan penertiban melalui digitalisasi sistem. Manajemen di bawah koperasi desa memastikan jumlah ojol dan perilaku berkendara mereka terpantau, sehingga ketentraman kawasan adat tetap terjaga dari tindakan arogan,” tegas Sudiana.

Dari sisi operasional jangka panjang, PT Sentrik Persada Nusantara memproyeksikan para mitra ojol Trihta sebagai pelopor transportasi hijau (green tourism) di Bali. Perusahaan telah menyiapkan armada kendaraan roda dua listrik tangguh yang didesain khusus untuk mobilitas tinggi area pariwisata.

Guna mempermudah adopsi teknologi tanpa unsur paksaan, manajemen Trihta menerapkan skema edukasi berbasis uji coba operasional. Para mitra ojol diberikan kesempatan melakukan test drive gratis selama dua hari.

​”Kami tidak memaksakan, melainkan mengedukasi agar mereka berpikir jernih dan profesional secara bisnis. Dengan mencoba langsung selama dua hari, para rider ojol dapat menghitung sendiri bahwa pengeluaran energi motor listrik jauh lebih efisien dibanding kendaraan konvensional (BBM), sehingga pendapatan bersih (net income) mereka otomatis meningkat,” terang Sudiana.

Sebagai garda terdepan pariwisata yang berinteraksi langsung dengan turis asing maupun domestik, kualitas layanan ojol menjadi fokus krusial bagi Trihta. Aplikasi ini mengarahkan para ojol untuk meningkatkan standar pelayanan setara kualitas “Bintang Lima” guna mendongkrak daya tawar (bargaining power) tarif di mata pasar. Dengan kepuasan yang tinggi, wisatawan dinilai tidak akan keberatan membayar tarif premium.

​Tidak hanya menyasar sektor angkutan, Trihta secara simultan mulai menguji coba fitur kuliner Trihta Food. Layanan ini bertujuan mempertemukan ekosistem transportasi ojol dengan ratusan pelaku UMKM kuliner lokal, seperti pedagang babi guling dan kuliner khas Bali lainnya, lewat model kerja sama yang adil (fair).

Ekspansi pasar Trihta sendiri dijadwalkan bergerak secara bertahap menyisir wilayah koridor barat Bali, dimulai dari klaster Beraban, berlanjut ke wilayah Cemagi, hingga masuk ke pusat pariwisata padat di kawasan Canggu. tra/dx