DENPASAR, OborDewata.com – Menyambut Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni, PT BPR Kanti (Perseroan) menggelar momentum krusial yang memadukan selebrasi tahunan dengan langkah strategis perusahaan. Bertempat di Bali, BPR Kanti menyelenggarakan Stakeholder Gathering 2026 sekaligus pengundian hadiah “Tabungaku”, sebuah produk tabungan andalan yang dirancang untuk memperkuat likuiditas dan inklusi keuangan masyarakat lokal.
Namun, yang menjadi sorotan utama dalam agenda tersebut bukan sekadar pembagian hadiah bagi nasabah setia, melainkan peresmian transformasi budaya perusahaan (Corporate Culture Transformation) yang dinilai sebagai babak baru dalam sejarah perjalanan BPR Kanti.

Direktur Utama BPR Kanti, I Made Amitabha, SE., MM., menegaskan bahwa momentum Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 sengaja dipilih sebagai hari lahirnya budaya baru di lingkungan perusahaan. Langkah ini diambil di tengah tekanan geopolitik global serta regulasi nasional yang kian ketat dan menantang bagi industri bank perekonomian rakyat.
”1 Juni adalah peringatan hari lahir Dasar Negara Republik Indonesia, Pancasila. Dan 1 Juni 2026 ini juga kami tetapkan sebagai hari lahir transformasi budaya perusahaan di BPR Kanti. Kami tidak boleh berdiam diri; perubahan dan transformasi adalah hal yang wajib dilakukan,” ujar I Made Amitabha dengan optimis.

Amitabha juga menyoroti pentingnya perjuangan para praktisi BPR agar regulasi ke depan dapat mengembalikan BPR ke khitahnya sebagai Community Bank. Merujuk pada sejarah Paket Kebijakan Oktober 1988 (Pakto 88), BPR didirikan untuk mengentaskan masyarakat pelosok dari jerat rentenir.
Ia menambahkan bahwa transformasi ke arah tatakelola yang baik (Good Corporate Governance / GCG) menjadi landasan utama yang selaras dengan nilai-nilai kepemimpinan baru di BPR Kanti, yang tercermin dalam buku pedoman kerja mereka yang bertajuk “Lawar Leadership”.
Proses transformasi kelembagaan ini mendapat pendampingan intensif dari konsultan manajemen dan ahli corporate culture, KS Arsana, S.Psi., M.Pd. Selama proses kajian, Arsana menggali rekam jejak kepemimpinan Amitabha yang telah menakhodai BPR Kanti selama 28 tahun untuk diadopsi menjadi cetak biru (grand design) perusahaan.
KS Arsana menjelaskan bahwa nilai-nilai lokal seperti filosofi pembuatan makanan khas Bali, Lawar, ternyata sangat relevan dalam meramu kompetensi SDM di dalam sebuah organisasi tanpa adanya satu unsur yang mendominasi.
”Landasan nilai-nilai budaya yang kuat akan membentuk pola sikap, pola pikir, dan perilaku seluruh insan di dalam perusahaan. Inilah yang akan membuat organisasi seperti BPR Kanti mampu bertahan (sustain), kuat, dan terus berkembang seiring perubahan zaman,” ungkap KS Arsana.
Arsana juga memberikan apresiasi tinggi kepada manajemen BPR Kanti. Menurutnya, sangat jarang ada institusi keuangan lokal setingkat BPR yang memiliki inisiatif mandiri dan keseriusan penuh untuk mematangkan manajemen perubahan lewat transformasi budaya yang terstruktur.
Dengan diluncurkannya transformasi budaya ini bersamaan dengan pengundian Tabungaku, BPR Kanti diharapkan tidak hanya kokoh secara finansial, tetapi juga mampu menjadi role model bagi tata kelola BPR yang sehat dan berintegritas di seluruh Indonesia. tra/dx

